Biografi Ir. H. Aburizal Bakrie


Gimana menurut pandangan anda tentang Biografi Ir. H. Aburizal Bakrie? tolong berikan komentar setelah selesai membaca.

Nama : Ir. H. Aburizal Bakrie
Lahir : Jakarta, 15 November 1946
Agama: Islam
Profesi:Pengusaha, Politisi, Pejabat

Jabatan:
- Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat KIB 2005-2009
- Menteri Koordinator Perekonomian KIB 2004-2005

Isteri: Taty Murnitriati
Anak: Tiga orang
Ayah: Achmad Bakrie

Pendidikan:
- SD, SLTP, dan SMA di Jakarta (1958-1967)
- Fakultas Elektro, Institut Teknologi Bandung, lulus tahun 1973

Pekerjaan:
1992 - sekarang : Komisaris Utama/Chairman, Kelompok Usaha Bakrie
1989 â€" 1992 : Direktur Utama PT. Bakrie Nusantara Corporation
1988 â€" 1992 : Direktur Utama PT Bakrie & Brothers
1982 â€" 1988 : Wakil Direktur Utama PT. Bakrie & Brothers
1974 â€"1982 : Direktur PT. Bakrie & Brothers
1972 â€" 1974 : Asisten Dewan Direksi PT. Bakrie & Brothers

Alamat Rumah:
Jl. Ki Mangunsarkoro No.42, Menteng
Jakarta - 10310

Terkaya Se-Asia Tenggara
Pengusaha Aburizal Bakrie semakin kaya. Menko Kesra ini disebut sebagai orang terkaya se Asia Tenggara. Dia pengusaha yang terbilang paling gemilang pada sepuluh tahun reformasi di Indonesia. Selain bisa keluar dari krisis ekonomi yang mengancam perusahaannya Bakrie Grup, malah menduduki posisi penting di pemerintahan dan dalam tempo singkat semakin kaya.

Politisi Partai Golkar ini, sempat menjabat Menteri Koordinator Perekonomian sebelum menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Kabinet Indonesia Bersatu.

Mantan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (1999-2004) ini memang telah lama dikenal sebagai pengusaha yang cukup sukses, mewarisi kekayaan ayahnya. Tak heran, bila kini, Ical â€" demikian ia biasa disapa â€" disebut-sebut sebagai orang terkaya di Indonesia. Bahkan, Globe Asia, majalah ekonomi lokal berbahasa Inggris, menobatkan lelaki kelahiran Jakarta, 15 November 1946 itu sebagai orang terkaya se-Asia Tenggara. Kabarnya, kekayaan Ical mencapai 9,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp 84,6 triliun.

Melimpah ruahnya kekayaan Ical, tentu tidak dikaitkan karena dirinya sebagai pejabat negara (Menko Kesra). Melainkan, karena ia adalah seorang pengusaha. Walaupun memang, semenjak menjadi menteri, penikmat lagu romantis ini tidak lagi terjun langsung dalam mengelola bisnis-bisnisnya. Tapi, Ical sudah mempersiapkan penggantinya.

“Itu semua sudah ada yang ngurus,” katanya sebagaimana dikutip Indo Pos (8/11/08). Namun, bukankah kapasitasnya sebagai pejabat tinggi negara bisa berpengaruh dalam memuluskan target-target bisnis-bisnisnya? “Saya akan bersikap profesional. Kepentingan negara tetap saya utamakan,” tambah Ical.

Menurut Globe Asia, dengan jumlah kekayaan sebanyak itu, berarti kekayaan mantan anggota MPR RI (1993-1998) ini lebih “wah” dibandingkan dengan harta kekayaan Robert Kuok (orang terkaya di Malaysia - memiliki 7,6 miliar dolar AS), Teng Fong (terkaya di Singapura - memiliki 6,7 miliar dolar AS), Chaleo Yoovidya (terkaya di Thailand - memiliki 3,5 miliar dolar AS), dan Jaime Zobel de Ayala (terkaya di Filipina â€" memiliki 2 miliar dolar AS).Dari manakah Ical memiliki kekayaan yang melimpah ruah?

Di bawah grup perusahaan Bakrie yang dipimpinnya, Ical mempunyai beragam bidang usaha: pertambangan batubara, perkebunan, minyak, properti, telekomunikasi, dan media massa. Di tahun 2008 ini saja, kabarnya, perusahaannya mendulang keuntungan yang tidak sedikit dari melonjaknya harga energi dan komoditas.

Mantan Presiden of Asean Chamber of Commerce & Industry ini, memang masih menghadapi masalah dengan salah satu perusahaannya (PT Lapindo Brantas) terkait meluapnya lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur. Namun, hal tersebut tidak membuat bisnis yang dijalankan keluarga Bakrie terhenti. Tampaknya, grup perusahaan Bakrie terlalu tangguh untuk bisa dilumpuhkan hanya dengan semburan lumpur panas. Dengan gagah, grup perusahaan Bakrie tetap melangkah, maju ke depan.

Menurut publisher Globe Asia Tanri Abeng, alumni ITB itu berhasil meraih kekayaan yang melimpah berkat strategi bisnis yang diterapkannya. Dengan kepiawaiannya mengelola aset yang dimiliki perusahaan, termasuk melalui modal pinjaman, Ical mampu membangun usaha demi usaha hingga bisnisnya menggurita.

"Jadi, kalau dia awalnya punya aset 100, dijadikan jaminan untuk meminjam 400. Tapi, hasil dari 400 itu untungnya sangat besar. Itu yang digunakan untuk membayar," ujarnya.


Tanri, mantan manejer satu milyar Bakrie Grup mengakui, dirinya sama sekali tidak merasa heran melihat keberhasilan Ical menjadi orang terkaya di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Pasalnya, mantan Menko Perekonomian itu sangat lihai dalam melihat peluang investasi di Indonesia dan pandai dalam itung-itungan bisnis. "Dia itu pintar sekali itung-itungannya," puji Tanri.

Boleh Berbangga
Aburizal Bakrie boleh berbangga dengan penobatan dirinya sebagai orang terkaya di Indonesia dan se-Asia Tenggara. Tapi, yang menjadi kebanggaan itu sejatinya bukanlah semata-mata terletak dari besarnya kekayaan yang dimiliki. Melainkan, lebih kepada prestasi dalam membangun serta memajukan beragam bidang usaha.

Sebab, dengan begitu, berarti ia dan keluarganya telah menunjukan peran yang cukup besar dalam memajukan roda perekonomian nasional, khususnya menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.

Kalaulah kebanggaan itu hanya karena banyaknya kekayaan yang dimiliki, barangkali, seorang koruptorlah yang paling “pantas” merasakan kebanggaan tersebut. Pasalnya, ia memang hanya memikirkan dirinya. Dia, bagai benalu yang sama sekali tidak memberi manfaat. Malah, menimbulkan mudharat.

Sungguh, tidak ada yang salah menjadi orang terkaya selama ditempuh dengan cara-cara yang elegan. Apalagi, kedudukan menjadi orang terkaya itu tercapai melalui upaya yang profesional, serta berdampak pada manfaat yang bisa dirasakan orang banyak. Bukan malah sebaliknya. (Spn)

Trade Mark Kadin, Masih Melekat
Sebelum menjabat menteri, Aburizal Bakrie atau Ical, adalah trade mark-nya Kadin. Sebutan itu bukan tidak beralasan. Pasalnya, selama sepuluh tahun (1994-2004) ia dipercaya memimpin induk organisasi industri dan perdagangan itu. Seiring dengan itu pula namanya kian dikenal sebagai salah seorang pengusaha nasional terkemuka.

Selama menduduki Ketua Umum Kadin, Ical telah berhasil menjadikan Kadin sebagai organisasi yang sangat penting dalam mempengaruhi kebijakan pemerintah. Lebih dari itu, Kadin pun telah menunjukan kontribusi dan partisifasi konkret dan langsung menyentuh masyakat ketika misalnya terkait berbagai kasus penyelundupan gula, kayu, beras yang saat itu marak terjadi. Kadin, “menggandeng” pemerintah guna mengatasi masalah tersebut.

Reputasi Ical sebagai bos besar Kadin dan pengusaha yang cukup sukses, kiranya menjadi pertimbangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mengangkatnya sebagai Menko Perekonimian. Namun, saat terjadi perombakan kabinet, Ical kemudian ditempatkan menjadi menteri yang tidak kalah pentingnya: Menko Kesra (sampai sekarang).

Ketika pertama kali dipanggil SBY terkait rencana pengangkatannya sebagai menteri, Ical, telah mengungkapkan berbagai langkah ekonomi yang harus dilakukan pemerintah dengan cepat. Tujuannya, kata dia, agar dunia usaha sebagai penopang ekonomi bisa tumbuh dengan baik.

Pengangkatan Ical sebagai menteri waktu itu sempat menimbulkan pro dan kontra. Namun baginya, reaksi seperti itu adalah wajar dan demokratis. Penggiat olahraga ini sempat menegaskan, dirinya akan berjalan dan bertindak sesuai kapasitasnya sebagai seorang menteri.

Memang, kini Aburizal Bakrie atau Ical sudah tidak lagi menjadi Ketua Umum Kadin. Ia telah menjadi seorang menteri. Namun, rasa-rasanya, nama besarnya itu masih tidak terpisahkan dari sejarahnya di Kadin. Jadi, orang terkaya di Indonesia dan Asia Tenggara itu adalah Aburizal Bakrie, mantan Ketua Umum Kadin itu lho

Pengusaha Politisi Jadi Menko Kesra
Jabatan Aburizal Bakrie, pengusaha yang politisi Partai Golkar, ini dirotasi dari Menko Perekonomian menjadi Menko Kesra pada resuffle Kabinet Indonesia Bersatu yang diumumkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Gedung Agung Yogyakarta, Senin (5/12) pukul 21.00. Jabatan Menko Perekonomian dipercayakan kepada Boediono.

Kegagalan Kabinet Indonesia Bersatu yang dicoba diatasi dengan melakukan perombakan terbatas anggota kabinet itu, memasukkan tiga nama baru dalam kabinet, tiga menteri diberhentikan, dan tiga menteri dirotasi.

Mantan menteri keuangan pada kabinet Megawati Soekarnoputri, Boediono, dibujuk menjabat Menteri Koordinator Perekonomian, menggantikan Aburizal Bakrie yang digeser menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, yang sebelumnya dijabat Alwi Shihab.

Ketika serah terima jabatan dengan Dorodjatun Kuntjoro-Jakti (21/10/2004), Aburizal mengatakan, untuk menggerakkan sektor riil, pemerintah tidak lagi hanya mengandalkan dana yang berasal dari fiskal. Pemerintah juga harus bisa memanfaatkan dana perbankan, Jamsostek, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai dana jangka panjang.

Mengenai konsep untuk mengatasi penyelundupan, Aburizal mengatakan, saat masih di Kamar Dagang dan Industri (Kadin), ia sudah mencoba mengatasi penyelundupan dengan pemerintah, tetapi belum berhasil. Kali ini pemerintah akan fokus untuk memerangi penyelundupan.

"Penyelundupan sudah merusak produsen pertanian dan manufacturing, jadi harus ada gerakan untuk mengatasi hal itu. Saya sebenarnya mendapat pengarahan dari Bapak Presiden yang mengatakan beliau akan mengadakan inspeksi mendadak pada poin yang krusial dan berbahaya," ujar

Mantan Ketua Umum Kadin Indonesia ini sebelum diangkat menjadi Meko Prekonomian Kabinet Indonesia Bersatu, sempat menjadi salah satu kandidat calon presiden yang memenangi lima besar dalam Konvensi Partai Golkar. Putera sulung pengusaha H Achmad Bakrie kelahiran Jakarta 15 November 1946 ini pada awal pencalonan didukung tidak kurang dari ketiga ormas Trikarya Golkar (SOKSI, Kosgoro, dan MKGR).

Boss Bakrie Group ini tetap eksis dalam dunia usaha. Ia salah satu dari konglomerat yang mampu bertahan dari badai ekonomi yang melanda negeri ini.

Jabatan Ketua Umum Kadin Indonesia yang dipangkunya sejak 1994 hingga tahun depan, telah mengantarnya untuk berkutat pada persoalan-persoalan nasional yang lebih besar daripada persoalan-persoalan yang dialami perusahaannya sendiri.

Saat ini, perjalanan karier alumni jurusan elektro ITB tahun 1973 sedang dalam proses menuju posisi orang nomor satu di negeri ini. Dia kini sangat sibuk menyosialisasikan visi dan misi sebagai salah seorang bakal calon presiden dari Partai Golkar.

Namun sesibuk apa pun dia, ternyata masih sempat menikmati hobinya, yaitu menyanyi dan olahraga. Sementara menari atau dansa, kurang disukainya. "Saya bisa cha-cha dan waltz, tetapi tidak begitu menikmati. Saya berdansa hanya untuk menyenangkan orang yang mengajak. Lain kalau menyanyi, saya senang sekali. Apa pun lagunya saya senang, terutama lagu-lagu romantis," katanya kepada Kompas.

Tentang olahraga, Ical mengaku dirinya benar-benar disiplin melakukannya. Tiga jam setiap hari. Dia juga tidak merokok.
Makanya, Ical paling marah kalau melihat pegawainya merokok.

Tentang perekonomian nasional, menurutnya, bisa tumbuh lebih cepat dibandingkan sekarang bila pemerintah lebih serius mengembangkan potensi pasar domestik sebagai motor penggerak ekonomi nasional.

Ekonomi Indonesia sudah ada perbaikan dan kemajuan, tapi ekonomi kita bisa tumbuh lebih tinggi dari 3,5 persen dengan dukungan ekonomi domestik yang lebih kuat. Kebijakan memperkuat ekonomi domestik memiliki nilai sangat strategis bagi pemulihan ekonomi,` ujarnya di Jakarta, Minggu.

Dikemukakan, pasar domestik yang kuat akan membantu pelaku usaha di dalam negeri untuk bersaing dan meningkatkan kinerja mereka yang secara signifikan akan berdampak pada perluasan kesempatan kerja.

Ical lahir di Jakarta, 15 November 1946, berkibar dengan perusahaan yang dirintis keluarganya, PT Bakrie & Brothers Tbk, sejak 1942. Ical adalah lulusan Fakultas Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung 1973. Jabatan di Bakrie & Brothers yang pernah dipegang, antara lain, direktur utama PT Bakrie Nusantara Corporation pada 1989-1992, Dirut PT Bakrie & Brothers 1988-1992, dan komisaris utama Kelompok Usaha Bakrie pada 1999-2004.

Ical juga aktif di organisasi. Periode 2000-2005, dia menjadi anggota Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia); 1999-2004, menjadi ketua umum Kadin (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) periode II; 1996-1998, menjabat presiden Asean Chamber of Commerce & Industry; dan 1993-1998, anggota Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR)-periode II.

Mencoba Keberuntungan
Mantan Ketua Umum Kadin Indonesia ini mencoba keberuntungan politik dengan ikut menjadi salah satu kandidat calon presiden dalam Konvensi Partai Golkar. Putera sulung pengusaha H Achmad Bakrie kelahiran Jakarta 15 November 1946 ini pada awal pencalonan didukung tidak kurang dari ketiga ormas Trikarya Golkar (SOKSI, Kosgoro, dan MKGR). Kemudian ia pun masuk dalam tujuh besar pemenang prakonvensi yang akan bertanding pada Konvensi Capres Partai Golkar selepas Pemilu Legislatif.

Bos Bakrie Group ini hingga kini tetap eksis dalam dunia usaha. Ia salah satu dari konglomerat yang mampu bertahan dari badai ekonomi yang melanda negeri ini.

Jabatan Ketua Umum Kadin Indonesia yang dipangkunya sejak 1994 yang berakhir tahun 2004 ini, telah mengantarnya untuk berkutat pada persoalan-persoalan nasional yang lebih besar daripada persoalan-persoalan yang dialami perusahaannya sendiri.

Saat ini, perjalanan karier alumni jurusan elektro ITB tahun 1973 sedang dalam proses menuju posisi orang nomor satu di negeri ini. Dia kini sangat sibuk menyosialisasikan visi dan misi sebagai salah seorang bakal calon presiden dari Partai Golkar.

Namun sesibuk apa pun dia, ternyata masih sempat menikmati hobinya, yaitu menyanyi dan olahraga. Sementara menari atau dansa, kurang disukainya. “Saya bisa cha-cha dan waltz, tetapi tidak begitu menikmati. Saya berdansa hanya untuk menyenangkan orang yang mengajak. Lain kalau menyanyi, saya senang sekali. Apa pun lagunya saya senang, terutama lagu-lagu romantis,” katanya kepada Kompas.

Tentang olahraga, Ical mengaku dirinya benar-benar disiplin melakukannya. Tiga jam setiap hari. Dia juga tidak merokok. Makanya, Ical paling marah kalau melihat pegawainya merokok.

Tentang perekonomian nasional, menurutnya, bisa tumbuh lebih cepat dibandingkan sekarang bila pemerintah lebih serius mengembangkan potensi pasar domestik sebagai motor penggerak ekonomi nasional.

Ekonomi Indonesia sudah ada perbaikan dan kemajuan, tapi ekonomi kita bisa tumbuh lebih tinggi dari 3,5 persen dengan dukungan ekonomi domestik yang lebih kuat. Kebijakan memperkuat ekonomi domestik memiliki nilai sangat strategis bagi pemulihan ekonomi,” katanya menjelaskan. Dikemukakan, pasar domestik yang kuat akan membantu pelaku usaha di dalam negeri untuk bersaing dan meningkatkan kinerja mereka yang secara signifikan akan berdampak pada perluasan kesempatan kerja.

Akan Memberantas Penyelundup
Sebelum menjabat menteri, tokoh yang satu ini adalah trade mark-nya Kadin (Kamar Dagang dan Industri). Sebutan itu bukan tidak beralasan. Selama sepuluh tahun (periode 1994-1999 dan 1999-2004) menukangi Kadin, Aburizal Bakrie berhasil membawa organisasi pengusaha itu sangat berpengaruh dalam pengambilan kebijakan pemerintah.

Kini Ical -sapaan Aburizal- pindah "kamar". Bila sebelumnya hanya sebatas mempengaruhi kebijakan pemerintah, kini dia menjadi penentu kebijakan. Ical dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi Menko Perekonomian. Sebagai mantan pejabat Kadin, apakah Ical akan membekingi kepentingan pengusaha? Meneruskan kepentingan Kadin? Bagaimana pula prospek bisnis Grup Bakrie? Berikut petikan wawancaranya dalam sebuah kesempatan.

Pada saat ditawari SBY jadi menteri, apa poin penting yang dibicarakan?
Pembicaraan itu berlangsung rileks dan terbuka. Sebagai orang yang terjun di dunia bisnis, saya berbicara dan berdiskusi mengenai berbagai langkah ekonomi yang harus dilakukan pemerintah dengan cepat. Ini agar dunia usaha sebagai penopang ekonomi bisa tumbuh dengan baik.

Saya juga jelaskan mana yang harus menjadi prioritas pertama dan mana yang akan menjadi prioritas kedua dan seterusnya. Saya juga mengatakan kepada Pak Yudhoyono, semua konsep itu sudah saya siapkan dengan matang. Jika kemudian saya terpilih, saya sudah siap dan tinggal koordinasi saja antardepartemen. Oh ya, saya ketika dipanggil hari Sabtu 17 Oktober 2004, sore hari.

Awalnya, penunjukan Anda sempat menjadi pro-kontra publik. Bagaimana Anda menjawab keraguan itu saat ini?

Begini. Bagi saya, pro-kontra itu wajar. Itu demokratis. Tapi, yang perlu saya jelaskan adalah saya ini akan berjalan dan bertindak dalam kapasitas sebagai seorang menteri koordinator. Saya membuat prioritas-prioritas kebijakan ekonomi untuk mendorong kerja lima tahun ke depan. Itu sudah mencakup semua aspek perekonomian.

Ada lima prioritas yang saya susun untuk memperbaiki kondisi perekonomian. Pertama, saya tegaskan, pemerintah akan menggunakan seluruh sumber pendanaan yang ada di dalam negeri untuk membiayai kebutuhan pembangunan sarana penunjang yang saat ini masih kurang.

Misalkan industri makanan dengan pertanian. Jika industri pertanian diproteksi, maka pada saat yang sama, industri makanan akan terpukul karena akan sulit untuk diekspor. Contoh lainnya adalah industri baja dengan makanan. Jika industri baja diproteksi, maka harga kaleng akan menjadi mahal sehingga makanan dalam kemasan kaleng tidak bisa ekspor akibat harga kemasan yang terlalu tinggi.

Kedua, pemerintah akan segera menetapkan jenis strategi industri yang akan diambil oleh Indonesia, yang diharapkan akan berjalan dalam tiga hingga lima tahun kemudian. Keputusan mengenai strategi industri ini harus dilakukan lebih awal.

Prioritas ketiga dalah pembangunan ekonomi domestik. Ini menyangkut pembangunan pasar, pelaku usaha, produksi, hingga pembiayaannya.

Khusus untuk masalah pembiayaan, pemerintah mendatang harus melihat loan to deposit ratio (LDR/rasio kredit) yang saat ini 53 persen. Dari Rp 450 triliun tabungan masyarakat di perbankan nasional, hanya Rp 190 triliun yang dikembalikan kepada masyarakat. Artinya, pemerintah akan secara hati-hati dan transparan menggunakan sumber-sumber dana yang ada di dalam negeri tadi untuk membiayai pembangunan ekonomi domestik.

Prioritas keempat, pemerintahan akan fokus membangun infrastruktur yang saat ini sudah sangat hancur. Berdasar studi yang dilakukan di Kadin, paling tidak perlu USD 150 miliar untuk membangun infrastruktur selama 10 tahun.

Dari USD 150 miliar tadi, USD 98 miliar atau sekitar Rp 900 triliun per tahun di antaranya dapat dibiayai oleh pihak swasta. Pemerintah harus menyediakan dana paling sedikit USD 52 miliar selama sepuluh tahun atau Rp 450 triliun per tahun.

Prioritas terakhir adalah kebijakan di bidang energi. Dalam jangka waktu enam bulan hingga satu tahun, kebijakan energi tersebut akan disusun lebih serius oleh pemerintah. Menurut saya, seluruh energi yang ada dapat disalurkan ke pusat-pusat konsentrasi penduduk, terutama ke Pulau Jawa.

Ini bisa menggunakan sistem pipanisasi dari daerah kaya energi, seperti Kalimantan. Jumlah dana yang diperlukan untuk melakukan pipanisasi itu hanya USD 2,5 miliar sampai USD 3 miliar atau sekitar Rp 30 triliun.

Program prioritas 100 hari?
Yang menjadi fokus utama kita, yakni menggerakkan sektor riil, pemerintah tidak lagi hanya mengandalkan dana yang berasal dari fiskal. Pemerintah harus bisa memanfaatkan dana perbankan, Jamsostek, atau lainnya yang dapat digunakan sebagai dana jangka panjang.

Dulu, Anda pernah bersuara keras soal penyelundupan. Bagaimana setelah Anda jadi pejabat?
Itu cita-cita saya yang belum kesampaian. Penyelundupan kini masih marak. Mulai gula, kayu, hingga beras. Saat saya masih aktif di Kadin, saya sudah mencoba mengatasi penyelundupan ini dengan pemerintah, tetapi masih belum berhasil. Kali ini saya tegaskan, pemerintah akan fokus untuk memerangi penyelundupan. Saya sudah duduk di pemerintahan.

Karena penyelundupan sudah merusak produsen pertanian dan manufacturing, jadi harus ada gerakan untuk mengatasi hal itu. Saya sebenarnya mendapat pengarahan dari Bapak Presiden yang mengatakan bahwa beliau akan mengadakan inspeksi mendadak pada poin yang krusial dan berbahaya. Jadi, cita-cita saya untuk memberantas penyelelundupan akan saya realisasikan sekarang.

Sekarang bagaimana kelangsungan bisnis Grup Bakrie?
Sejak saya memutuskan untuk mengikuti konvensi Partai Golkar, saya sudah melepaskan kegiatan bisnis saya. Itu semua sudah ada yang ngurus. Jadi, saya tetap akan berkonsentrasi untuk melaksanakan tugas yang diamanahkan kepada saya sebagai menteri koordinator bidang perekonomian. Artinya, saya akan bersikap profesional. Kepentingan negara tetap saya utamakan.

Setelah Anda menteri, ide dan usul Kadin akan terpakai terus?
Saya tegaskan, saya akan profesional. Saya ini menteri dari pos profesional. Jadi, setelah jadi menteri, saya tetap akan profesional. Tapi, ide-ide teman Kadin yang saya nilai baik dan bagus sebagai sebuah kontribusi ekonomi kepada negara tetap diakomodasi.

Sebagai menteri koordinator, bagaimana Anda mengendalikan para menteri teknis?
Insya Allah, dengan komitmen untuk memajukan bangsa dan negara ini, saya dan anggota kabinet lainnya akan bekerja sama seoptimal mungkin dan sebaik mungkin.

Kekayaan Meningkat Jadi Rp 1,329 T
Dibandingkan dengan tahun lalu (2004), kekayaan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie naik sebesar Rp 130 miliar, dari kekayaan pada tahun 2004 sebesar Rp 1,190 triliun menjadi Rp 1,329 triliun. Demikian pengumuman Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa (23/5/2006).

Harta Aburizal berupa tanah dan bangunan yang pada 29 Oktober 2004 sebesar Rp 22,257 miliar naik menjadi Rp 28,626 miliar pada 31 Desember 2005. Harta bergerak berupa alat transportasi dan mesin lainnya senilai Rp 4,458 miliar pada 2004 naik menjadi Rp 6,019 miliar pada 2005.

Sementara surat berharga pada tahun 2004 Rp 1,154 triliun naik menjadi Rp 1,286 triliun tahun 2005. Giro dan setara kas Rp 2,457 miliar tahun 2004 menjadi Rp 2,126 miliar dan 48.172 dollar AS tahun 2005. Harta bergerak lainnya dari Rp 6,2 miliar meningkat menjadi Rp 6,6 miliar.

Menurut Staf Khusus Menko Kesra Lalu Mara Satri Wangsa, kenaikan kekayaan Aburizal disebabkan harga nilai surat berharga yang dimilikinya naik RP 132 miliar, akibat membaiknya perekonomian Indonesia. Soal kerja sama Bakrie dan Bappenas, Lalu membenarkan PT Bakrie Swasta Utama bekerja sama dengan Bappenas, di mana Bappenas memiliki tanah dan Bakrie membangun gedung 20 tingkat senilai Rp 150 miliar. Pembangunan sempat terhenti karena krisis, tapi kini dilanjutkan dan diharapkan selesai Juni

Ketua Umum Partai Golkar 2009-2015
Aburizal Bakrie alias Ical terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar (2009-2015) dalam Munas VIII di Pekanbaru, Riau Kamis (8/10/2009) dini hari. Ical memenangkan secara aklamasi setelah dalam pemungutan suara penetapan calon telah meraih 296 suara (lebih 55 persen), sedangkan pesaingnya Surya Paloh memperoleh 240 suara, dan dua kandidat lainnya yakni Hutomo Mandala Putra (Tomy) dan Yuddy Chrisnandi tidak mendapat suara satupun.

Setelah itu dipilih Tim Formatur untuk menyusun komposisi dan personalia Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar periode 2009-2015. Tim formatur terdiri dari ketua umum terpilih Aburizal Bakrie, tiga orang perwakilan DPD yakni Mahyuddin (DPD Kaltim), Ridwan (Sultra) dan Rusli Zainal (Riau) serta satu orang dari unsur ormas yakni Fachri Andi Laluasa (AMPI).

Komposisi dan Personalia DPP Partai Golkar 2009-2015 susunan tim formatur tersebut sebagai berikut:

Ketua Dewan Pertimbangan:
Akbar Tandjung

Ketua Umum: Aburizal Bakrie
Wakil Ketua Umum: HR Agung Laksono dan Theo L Sambuaga
Ketua Bidang Kaderisasi: Hafiz Zawawi
Ketua Bidang Organisasi dan Daerah: Mahyudin
Ketua Bidang Hub Eksekutif dan Yudikatif: HM Rusli Zainal
Ketua Bidang Hubungan Legislatif: Priyo Budi Santoso
Ketua Bidang Informasi dan Penggalangan Opini: Fuad Mansyur
Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Sumatera: Andi Achmad Dara
Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Jawa & Bali: Sharif Cicip Sutarjo
Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Maluku Papua: Freddy Latumahina
Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Kalimantan: Ahmadi Nur Supit
Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Sulawesi: Fachri Andi Laluasa
Ketua Bidang Perempuan: Ratu Atut Chosyiah
Ketua Bidang Pemuda: Yorris Raweyay
Ketua Bidang Pekerja, Tani dan Nelayan: Yamin Tawari
Ketua Bidang Usaha dan Koperasi: Firman Subagyo
Ketua Bidang Keagamaan dan Kebudayaan: Hajriyanto Y Thohari
Ketua Bidang Kemahasiswaan dan LSM: Fadel Muhammad
Ketua Bidang Kerja Sama Internasional: Iris Indira Murti
Ketua Bidang Pemikiran dan Kajian Kebijakan: Rizal Mallarangeng
Ketua Bidang Pendidikan: Indra Bambang Utoyo
Ketua Bidang Kesehatan dan Lingkungan Hidup: Ade Komaruddin
Ketua Bidang Bidang Penanganan Kerawanan Sosial: Pontjo Sutowo
Ketua Bidang Hukum dan HAM: Muladi
Ketua Bidang Umum: Rully Chairul Azwar
Ketua Bidang Khusus: Nurdin Halid

Sekjen: Idrus Marham
Wasekjen: Harry Azhar Azis, Musfihin Dahlan, Muhidin, Ahmad Dolly Kurnia, Titiek Soeharto, Mujib Rohmat, Nurul Arifin, Ricky Rachmadi, Happy Bone Zulkarnain, Hasanuddin Mochdar, I Made Sumarjaya Linggih, Immanuel Blegur, Oktaviano dan Leo Nababan.

Bendara Umum: Setya Novanto
Wakil Bendahara: Airlangga Hartarto,: Erwin Aksa, Hariara Tambunan, Agus G Kartasasmita, Azis Syamsuddin, Bobby Suhardiman, Melchias Mekeng, Tri Hanurita Sudwikatmono, Mustoko Weni, Bambang Atmanto Wiyogo, Watty Amir, Hamzah Sangaji dan Rahman Akil.

Empat Program
Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie menjanjikan kemenangan Partai Golkar dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) gubernur dan bupati/wali kota di seluruh Indonesia. Aburizal juga berjanji akan memilih kader Partai Golkar terbaik dan paling populer untuk maju dalam setiap pilkada dan pemilu.

"Setiap tahun, ada 100 pilkada. Kita harus merebut satu per satu. Kita harus menguningkan Sabang sampai Merauke. Saya akan bekerja keras tujuh hari dalam seminggu, 24 jam sehari, membantu kader di provinsi dan kabupaten/kota. Perjuangan kader partai adalah perjuangan saya. Kekalahan kader Partai Golkar juga akan memukul saya," ujar

Aburizal Bakrie dalam pidato politiknya pada penutupan Munas VIII Partai Golkar di Pekanbaru, Riau, Kamis (8/10/2009) memaparkan empat hal yang akan dilakukannya untuk menjadikan Partai Golkar sebagai partai terbesar. "Pertama, akan melakukan konsolidasi. Konsolidasi ini harus bersifat vertikal dan horizontal. Kader serta pengurus di pusat dan daerah harus menyatu. Seluruh kader partai harus disiplin. Semuanya harus mengikuti garis partai dengan menghormati kesepakatan internal partai.

Kedua, akan melakukan kaderisasi. Saat ini, Golkar memang bukan partai terbesar. Tapi, kader terbaik Golkar masih banyak di seluruh Indonesia. Untuk merebut kejayaan itu, kader inilah yang menjadi andalan partai. Selain kader yang sudah ada, harus dicetak kader baru. Untuk itu perlu dijalankan kaderisasi.

Ketiga, melakukan kreativitas dan ketajaman ide serta gagasan. Golkar harus menjadi partai yang hidup dan dinamis. Begitu banyak isu strategis dan persoalan besar yang dihadapi bangsa Indonesia. Untuk menghadapi hal itu, harus diciptakan solusi yang kreatif melalui ide-ide yang cemerlang.

Keempat, memenangi pemilu, pemilihan presiden dan pemilihan kepala daerah. "Kita harus menguningkan Indonesia. Setiap tahun banyak pilkada. Kita harus merebutnya satu per satu," katanya.

Sebagai Ketua Umum Golkar, Aburizal mengajak kadernya bekerja keras. Ia berjanji akan bekerja keras untuk membantu kader-kadernya, baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota hingga yang terbawah. "Saya akan membantu memenangkan kader kita dalam pilkada," ujarnya.

Dalam Pemilu 2014, Partai Golkar juga akan konsisten mencalonkan kader terbaik dan terpopuler. Bahkan, Aburizal siap apabila tidak menjadi calon presiden Partai Golkar di Pemilu 2014. "Capres Golkar tidak harus ketua umum," tuturnya.

Dalam pidato politiknya, Aburizal Bakrie juga mengajak tiga calon Ketua Umum Partai Golkar untuk bersatu. "Hari ini Golkar membuktikan biasa berdemokrasi, kita telah menunjukkan suatu pertarungan yang ketat. Kita tetap bersahabat," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP Partai Golkar (2004-2009) Jusuf Kalla dalam sambutannya berpesan agar ke depan Partai Golkar melayani masyarakat dengan baik. Karena dengan kecintaan rakyat itu, Golkar bisa bangkit. "Golkar harus mampu menjadi partai yang memperjuangkan kepentingan masyarakat," katanya.

Jusuf Kalla mengingatkan kader Partai Golkar yang ada di pemerintahan, baik legislatif maupun eksekutif, supaya menjaga nama baik Partai Golkar. "Jangan sampai ada yang berurusan dengan polisi, kejaksaan atau bahkan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kader kita yang di pemerintahan akan dinilai rakyat. Kalau berurusan ke KPK terus, tentu akan dinilai rakyat," katanya.

Sebelumnya Jusuf Kalla menyarankan agar Partai Golkar bukan hanya ikut menjalankan pemerintahan, tapi sekaligus mengontrol pemerintahan. "Memang dua kemungkinan pilihan Golkar. Pertama, menjalankan pemerintahan; kedua, mengontrol pemerintahan. Tapi, seyogianya kalau memilih menjalankan pemerintahan, sebaiknya sekaligus mengontrol pemerintah," katanya

Melapor ke Presiden SBY
Jakarta, 9/10/2009: Ketua Umum Partai Golkar yang baru terpilih Aburizal Bakrie melapor ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat di Puri Cikeas, Bogor, Jumat (9/10/2009). Kedatangan Aburizal yang juga menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, itu menegaskan komitmen Aburizal membawa Partai Golkar bekerja sama dengan Partai Demokrat.

"Pak Ical melaporkan pada Presiden, bahwa ia telah terpilih sebagai Ketua Umum Golkar. Tentu saja Presiden menyampaikan selamat," kata Andi Mallarangeng, Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat yang juga juru bicara Presiden Yudhoyono, kepada pers Jumat malam (9/10).

Andi menambahkan, Golkar dan Partai Demokrat selama lima tahun ini sudah terbiasa bekerja sama di pemerintahan. Dia berharap dengan kepemimpinan yang baru ini mudah-mudahan kerja sama bisa dilanjutkan dengan baik.

Tidak diungkapkan bagaimana bentuk laporan Ketua Umum Golkar tersebut kepada Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat tersebut. Walaupun, Andi mengatakan bahwa hal ini merupakan tradisi partai politik di Indonesia.

Namun, sumber TokohIndonesia.com memperkirakan Aburizal Bakrie kemungkinan menyampaikan kesediaan Partai Golkar di bawah pimpinannya bekerjasama dengan pemerintah dan Partai Demokrat.

Sumber TokohIndonesia.com di Slipi menyebut kemungkinan Partai Golkar akan mendapat jatah tiga kursi menteri dalam Kabinet SBY 2009-10014. Yakni Agung Laksono menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Theo Sambuaga menjadi Menteri Pertahanan dan Andi Mattalatta tetap menjabat Menteri Hukum dan HAM.

Sumber : http://www.tokohindonesia.com
Foto :http://202.146.5.33


Read Users' Comments (0)

Asyiknya Melawat ke Tanah Laut


Gimana menurut pandangan anda tentang Asyiknya Melawat ke Tanah Laut? tolong berikan komentar setelah selesai membaca.

Oleh: Raudal Tanjung Banua

Bertandang ke Kalimantan Selatan pada Juni lalu, saya memilih berkunjung ke daerah transmigrasi Pelaihari. Kota kecil yang jauh dari sungai besar ini menarik perhatian saya sejak dulu lantaran menjadi setting novel Orang-orang Trans karya N.H. Dini, yang saya baca di bangku SMP. Mengisahkan perjuangan para transmigran di lahan gambut Kalimantan, penuh inspirasi. Ada keberpihakan pada "bumi dan langit" Tanah Air lewat tokoh-tokoh kecil petani yang penuh bakti.

Saya bahagia ketika akhirnya sampai di Pelaihari, ibu kota Kabupaten Tanah Laut, 65 kilometer dari Banjarmasin, ibu kota Kalimantan Selatan. Tanah Laut tak hanya memiliki lahan pertanian yang terhampar mulai Pegunungan Meratus, tapi juga pantai dan bahkan sebuah pulau yang cukup besar, Sebuku dan Pulau Laut. Di tengah gelora otonomi, kabupaten ini dibagi dua, yakni Tanah Bumbu, dengan ibu kota Pagatan sebagai daerah pemekaran baru, dan Tanah Laut sendiri, dengan ibu kota tetap di Pelaihari.

Kebetulan saya punya kawan, Jamal Suryanata, yang menjadi komuter berapa waktu terakhir. Genap 10 tahun menjadi kepala SD di Batu Ampar (daerah transmigrasi di pedalaman Tanah Laut), belum lama ini ia ditarik ke Kantor Dinas Pendidikan di Pelaihari, dan sembari itu ia mengajar di sejumlah perguruan tinggi di Banjarmasin serta Banjarbaru. Jadi, sekali seminggu, Jamal memacu sepeda motor bebeknya Pelaihari-Banjarmasin pulang-pergi. Hari itu, saya diboncengkan Jamal ke Pelaihari dari Banjarbaru.

Perjalanan dua jam itu cukup melelahkan. Kami harus melewati jalan penuh lubang dan berdebu, terlebih ketika angin santer bangkit menderu. Tapi itu semua tak mengurangi nikmatnya perjalanan karena kami bisa menyaksikan pemandangan rawa dan tanah gambut, lengkap dengan rerumputan dan pohon perdu yang terhampar seluas mata memandang, termasuk pasak bumi yang terkenal "jos" itu.

Sebelum masuk gerbang kota, jalan sedikit menanjak melewati perbukitan, yang merupakan bagian dari anak-anak Pegunungan Meratus. Ada juga sebuah bekas pabrik gula, yang tutup sejak delapan tahun lalu.

Kami memasuki kota senja hari, saat lampu-lampu kota kecil Pelaihari dinyalakan. Hanya sebentar Jamal singgah di terminal bus, yang jika malam disulap menjadi pasar malam, untuk membeli penganan. Selanjutnya, kami pulang ke rumahnya, kompleks Perumahan Matah Raya. Kompleks dekat pusat Kota Pelaihari itu dikelilingi banyak tanah kosong, hamparan lahan gambut, dan rawa-rawa.

Lelah perjalanan membuat saya cepat tertidur. Keesokan pagi, azan subuh serentak menggema. Saya terjaga dan mengintip. Terlihatlah fajar merekah. Tak puas, saya buka jendela dan menikmati matahari perlahan muncul dari punggung Pegunungan Meratus nun di sana. Cahayanya yang kuning kemerahan menyebar ke atap-atap rumah kota kecil Pelaihari, menyepuh semak perdu, pepohonan, dan tanah gambut. Subhanallah! Betapa indah.

Hawa sejuk berembus, embun tepercik ke pori-pori. Burung-burung berkicau. Sepasang tupai berkejaran di dahan jambu. Kokok ayam berderai di tengah kampung. Tanah gambut mulai merata disepuh matahari, menyisakan lembap di dedaunan. Pemandangan jadi segar berkilat.

Bersamaan dengan itu, kota bangkit dan menggeliat. Dari lantai dua rumah Jamal, yang berfungsi sebagai ruang kerja dan perpustakaan, itu, saya bebas menikmati pagi di gugusan Pegunungan Meratus. Tuan rumah datang membawakan kopi dan pisang goreng hangat-hangat. Lengkap sudah. Di tengah perasaan megap keharuan, ingatan saya terpacak pada sajak alam Rendra yang menggugah, di antaranya berbunyi: "Apabila kita bertiarap di bukit yang damai/ kita mengarah ke lembah/ dengan gelagah dan semak-semak berbunga./ Di langit yang bersih terpancanglah matahari/ Sepanjang tahun selalu bercaya./"

Pagi itu, Jamal meminjami saya sepeda motor untuk perjalanan ke Pantai Tekisung, sekitar 25 kilometer dari Kota Pelaihari.

Setelah sarapan, kami bertolak bersama seisi rumah: Jamal berboncengan naik sepeda motor istrinya ke kantor, anak-anaknya ke sekolah, dan saya ke Pantai Tekisung. Selain Tekisung, ada obyek lain yang menarik, seperti Pantai Batakan, air terjun Bajuin, dan Waduk Riam Kanan. Namun, kata Jamal, jalan ke sana "susah sungguh".

Perjalanan ke Tekisung diwarnai pemandangan sawah, kebun kelapa, gerumbulan pohon sagu atau rumbia, dan tentu semak perdu yang menjadi pemandangan khas banua Tanah Laut. Di beberapa jembatan kecil yang saya lalui, sepagi itu sudah terlihat orang-orang memancing ikan air tawar. Dua kali saya berhenti, melihat ikan pepuyu, sepat, dan aruan menggelepar di dalam wadah mereka yang terbuat dari rotan. Di pertengahan jalan berikutnya, saya terhalang kemacetan. Rupanya ada "pasar tumpah". Di tepi jalan, dalam ember dan keranjang, saya melihat banyak ikan laut. Wah, wah, saya bergumam sendiri: ikan tawar ada, ikan laut tak ketinggalan. Pantas daerah ini bernama Tanah Laut.

Setelah melewati jembatan di muara Sungai Tabunio (tempat bersandar banyak kapal ikan), akhirnya saya tiba di Pantai Tekisung. Pantai ini terletak dalam kawasan Tanjung Selatan, yang jika dilihat dalam peta Pulau Kalimantan tampak mencolok lantaran menjorok cukup jauh ke Laut Jawa. Pantainya lebar, meski tak terlalu panjang, karena terhalang bukit yang menjulur ke laut. Pohon kelapa dan ketapang berjejer merimbuni pantai. Di kejauhan terlihat sebuah mercusuar warna kuning menyala. Beberapa kapal ikan juga terlihat diparkir di bibir pantai yang hampir tak berombak.

Pasir Pantai Tekisung berwarna kuning. Sungguhpun begitu, pengunjung tetap asyik berenang atau sekadar berendam. Kita bisa menyewa ban, sumber nafkah masyarakat sekitar. Selain itu, ada anak-anak yang berjualan kerang, umang-umang, dan kepiting hidup. Tapi orang dewasa yang menyewakan tikar tampak beberapa kali mengusir pedagang cilik ini agar menyingkir karena bentangan tikar yang mereka sewakan cukup menyita banyak tempat. Saya merasakan sesuatu yang tak adil.

Puas menikmati pantai, kita tinggal menyeberangi jalan untuk masuk ke sebuah pasar. Pasar rakyat ini cukup besar, dengan jejeran los beratap rumah adat khas Banjar. Apa yang menarik di sini? Kita bisa beristirahat sambil memesan minuman dan makanan. Es buah, kelapa muda, minuman kaleng, atau segelas kopi. Makanan pun bervariasi. Di samping tersaji masakan khas Kalimantan Selatan, seperti soto Banjar dan ketupat Kandangan, terdapat sate Madura, soto Kudus, dan nasi rawon. Asli. Ternyata pedagangnya kalangan perantau atau orang-orang trans yang beralih pekerjaan.

Saya sendiri menikmati es kelapa muda yang segar dan ketupat Kandangan yang besarnya tak kepalang tanggung. Dimakan pakai kuah bersantan, bersayur kacang panjang, menu ini bikin perut cepat kenyang. Setelah itu, saya menuju ke los hasil laut, tempat berjejer lapak pedagang dipenuhi ikan segar, ikan yang dikeringkan, atau yang diasinkan. Mulai ikan kakap, kembung, cakalang, cumi, sampai hiu yang baru ditangkap, semua ada. Untuk oleh-oleh, saya pilih ikan asin kemasan. Tak ketinggalan udang dan cumi kering. Harganya berkisar Rp 4.000-7.000. Ada pula terasi atau belacan dalam keranjang mungil anyaman pandan. Saya memborong 10 bungkus ikan dan 10 kotak belacan.

Sebelum pulang, saya mampir ke kedai suvenir di depan los pasar. Berbagai kerajinan kerang dan lokan terpajang di sini, dari kap lampu, tirai pintu, bingkai foto, sampai ke aksesori meja dan gantungan kunci. Bunyinya yang bergemerincing lumayan mengundang sensasi: mengingatkan kita pada laut! Nah, jika di pasar Tekisung kita selalu teringat kekayaan samudra, di Pusat Agrobisnis di tengah Kota Pelaihari niscaya kita bakal teringat akan kekayaan tanah pertanian. Berbagai hasil bumi, seperti pisang, singkong, pepaya, dan jagung, diikat dan digantung memenuhi kios. Beberapa diolah menjadi makanan kemasan berupa keripik dan kerupuk. Tinggal pilih. Mampir di kedua tempat ini makin mengukuhkan Pelaihari sebagai ibu kota Kabupaten Tanah Laut--tempat menyatunya kekayaan tanah pertanian dan laut.
__________
Raudal Tanjung Banua, Peminat Perjalanan, Tinggal di Yogyakarta

Read Users' Comments (0)

Seni Tari Melayu : Fungsinya dalam Budaya Melayu


Gimana menurut pandangan anda tentang Seni Tari Melayu : Fungsinya dalam Budaya Melayu? tolong berikan komentar setelah selesai membaca.

Oleh : Julianti L. Parani

Penulis mengungkapkan bahwa nilai-nilai budaya Melayu, khususnya seni tradisional, belum diungkapkan secara jelas fungsi dan sumbangannya dalam sistem pendidikan dan estetika kehidupan orang Melayu Riau masa kini.

Untuk mewujudkan diskusi ilmiah mengenai tari tidak mudah, karena tari mengisi keperluan abstrak dengan formulasi yang terbatas. Adapun pengkajian tari dalam konteks tradisi juga sering menambah permasalahan, karena peninggalannya sudah tidak utuh atau di ambang kepunahan. Namun, dengan adanya perkembangan berbagai ilmu pengetahuan seperti sejarah, antropologi, dan ilmu sosial, tabir seni tari telah banyak tersingkap. Mudah-mudahan pendekatan keilmuan ini dapat membawa perkembangan yang lebih baik bagi tari Melayu.

Permasalahan kemelayuan dapat dibatasi dalam kerangka geografis tertentu, namun, “Apakah pembatasan ini dapat dianggap bijaksana dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi tari Melayu sekarang?” Pertanyaan ini sukar dijawab, karena ada kenyataan yang tidak bisa dielakkan, yakni kebudayaan Melayu telah melampaui batas geografi yang sempit. Gejala ini telah membawa berbagai permasalahan kemajemukan. Mungkin menarik untuk melihat gejala kebudayaan Melayu secara horizontal. Usul ini bukan untuk mengacaukan permasalahan dan mengaburkan sorotan, tetapi hanya sebagai satu alternatif dalam mencari jalan keluar yang lebih berdaya guna.

Tari Melayu sudah langka karena aus oleh perkembangan sosial ataupun gejala alamiah, terutama di daerah asalnya, Sumatera Timur, sedangkan di lain pihak, ada gejala peninggalan kebudayaan Melayu yang sudah tersebar jauh dari daerah asalnya. Dalam pembicaraan sehari-hari tidak lagi ada keganjilan mengenai orkes Melayu, tari Melayu, teater Melayu, lebih-lebih sastra Melayu yang melampaui batas daerah asalnya itu. Dilihat dari kepentingan komunikasi, gejala pemekaran kebudayaan Melayu telah menumbuhkan rasa persatuan dalam kehidupan kebangsaan kita. Dalam sejarah, gejala ini dapat berkembang secara wajar dan telah menyadarkan kita bahwa kebudayaan Melayu memiliki daya komunikasi yang efektif, sehingga mudah mengalir dan diterima masyarakat.

Tari Melayu sebagai kebudayaan pesisir telah mengalir menelusuri pantai Nusantara, ibarat pengantar komunikasi rasa yang merata. Rasa yang mengalir kemudian lebur dan mengendap dalam perantauannya. Pengendapan ini sangat terasa dalam musik, sedangkan dalam unsur gerak bisa dirasakan melalui karakter dan sifat gerak tarinya. Komunikasi rasa dalam tarian mempunyai daya yang lebih wajar dalam hubungan dan pergaulan antarmanusia. Ia tidak memerlukan daya penyampaian yang rumit. Esensi penyampaiannya terletak pada nilai spiritual. Sifatnya yang begitu sensitif dalam komunikasi kebudayaan ini juga dapat membawa faktor negatif. Misalnya, cepat dicintai, tetapi cepat pula dilupakan. Dalam konteks ini, munculnya tari Serampang XII pada tahun 50-an yang geraknya bertolak dari unsur tari Melayu menarik untuk dikaji.

Ada yang mengatakan bahwa tari Serampang XII yang diharapkan dapat menjadi tari pergaulan nasional itu tidak bisa disamakan dengan proses sosialisasi bahasa nasional kita, meskipun keduanya berasal dari Melayu. Usaha yang kurang berhasil ini disebabkan karena dalam seni tari terdapat kadar nonpraktis, nonkonkrit, dan noninformatif yang lebih besar daripada yang terdapat dalam bahasa sebagai keperluan dalam hidup bermasyarakat. Bila tidak ada keperluan yang lebih kuat yang bisa memberi motivasi terhadap eksistensi seni tari, gejala musiman akan sering muncul dalam seni tari. Kalau dulu ada tari Serampang XII, kemudian muncul Jaipongan, maka kini ada breakdance. Apabila diperlukan bentuk tari nasional, maka proses pembentukannya memakan waktu. Waktu ini bisa diperpendek apabila fungsi tari bisa dibina untuk kepentingan nasional. Sebelum terbentuknya tari nasional yang bisa dibanggakan sebagai ekspresi nasional yang secara kualitas baik, kita perlu meningkatkan fungsinya sebagai sarana pemersatu.

Pada masa kini, kita masih berbicara mengenai tari nasional yang bersifat kolektif atau penjumlahan belaka (Susanto, 1980). Wujud nasional yang berkualitas baru merupakan suatu usaha. Tari nasional bukan suatu perakitan dari unsur tari-tari daerah dan bukan pula karya seseorang yang disebarkan secara nasional. Ia merupakan hasil dari proses kreatif yang secara artistik memiliki nilai-nilai yang telah diterima sebagai milik nasional dan bisa dibanggakan. Proses kreatif itu sebenarnya sudah dimulai, hanya saja belum menghasilkan karya tari yang cukup mengental. Hal ini tidak saja menyangkut masalah artistik, tetapi juga apresiasi terhadap karya seni yang baik. “Apakah kita sudah sepakat tentang standar bentuk karya seni yang baik yang bisa diterima sebagai milik nasional?” Tentu saja hal ini bisa menjadi topik perdebatan yang hangat, karena formulasinya masih kabur. Apresiasi dan penilaian dalam seni tari di negara kita belum merata dan belum berpijak pada kaidah rasa yang sama. Peningkatan apresiasi terhadap kesenian juga merupakan peningkatan pendidikan dan pengetahuan umum di Indonesia (Koentjaraningrat, 1984).

Dalam menemukan kaidah rasa yang sama dalam seni tari, kita mengkaji masalah fungsi tari Melayu, baik dalam bentuk aslinya di daerah asalnya maupun nuansa dalam berbagai perkembangannya. Kalau berbicara mengenai tari Melayu, sebetulnya kita membahas orang Melayu, sejarah, dan perkembangannya. T. Luvkman Sinar (1976) sudah menjelaskan latar belakang tari Melayu sejak munculnya kerajaan-kerajaan di sebelah timur Sumatera. Selanjutnya

R. Heine-Geldern menarik lebih jauh ke belakang dengan mengatakan bahwa orang Melayu adalah orang Austronesia yang pada tahun 2000 SM datang ke Indonesia dari daratan Cina Selatan. Ini merupakan suatu pendapat yang sudah diterima dalam penelitian tentang latar belakang bahasa Indonesia.

Kroeber mengatakan, sebetulnya ada dua jenis orang Melayu yang datang ke Indonesia. Pertama, yaitu mereka yang datang lebih awal dan menetap di pedalaman. Kedua, yaitu mereka yang datang dan menetap di pesisir (Loeb, 1974).

Yang terakhir ini sering disebut sebagai de eigenlijke Meleiers (Sinar, 1976). Kemudian Marsden dalam The History of Sumatera memperkuat pendapat itu dengan mengatakan bahwa orang Melayu adalah penduduk pesisir yang beragama Islam yang dianggap seperti orang Moor di India. Dalam deskripsinya, Marsden membedakan orang Melayu dengan orang Minangkabau, orang Aceh, orang Batak, orang Rejang, dan orang Lampung. Dalam konteks kebudayaan Melayu, di Malaysia telah dibicarakan mengenai kebudayaan Melayu yang animistis, Hinduistis, Islam, dan seterusnya (Ryan, 1971).

Ashley M. Turner (1985), seorang peneliti dari Australia, menemukan fakta bahwa kebudayaan Melayu di Riau masih archaic, karena adanya praktik perdukunan yang dilakukan melalui nyanyian dan tarian dalam budaya tersebut. Melihat bukti-bukti peninggalan ini, maka kebudayaan Melayu yang masih bisa diteliti meliputi kebudayaan yang animistis hingga ke kebudayaan modern/kebarat-baratan. Meskipun demikian, bisa dikatakan bahwa kebudayaan yang bertolak dari kebudayaan Islam memang paling menonjol. Kini kita perlu menggali akar yang masih tertinggal di lingkungan masyarakat asalnya serta meneliti unsur yang mengalir dan mengendap di berbagai daerah lain. Identifikasi kemelayuan di daerah-daerah lain ini penting untuk proses revitalisasi unsur-unsur yang sudah hilang atau sudah tidak bermakna di daerah asalnya.

Bentuk pernyataan gerak estetis dalam kebudayaan Melayu terungkap melalui berbagai cabang kesenian, baik yang hanya sebagai hiburan maupun yang bermakna ritual. Bentuk tersebut merupakan penunjang dari seni suara, baik suara manusia maupun suara alat musik. Kadang-kadang bentuk tersebut sebagai bagian dari lakon sandiwara, teater, komedi, wayang, dan sebagainya. Bentuk tersebut juga memiliki unsur gerak yang kuat dan berdiri sendiri, sedangkan unsur lain sebagai penunjang. Tari Melayu kita temukan sebagai bagian dari bentuk teater Bangsawan, makyong, Mendu, dan sebagainya dengan bobot gerak yang tidak sama, namun sejenis. Tari Serampang XII dipopulerkan sebagai bentuk tari pergaulan yang dilakukan berpasang-pasangan, bertolak dari irama atau rentak. Demikian pula dikenal penamaan tari atau bagian tarian yang disebut sebagai rentak Senandung, rentak Mak Inang, rentak Lagu Dua, dan rentak Pulau Sari yang dibedakan atas penjenisan iramanya.

Bentuk-bentuk yang berkembang melalui teater dan sejenisnya mempunyai makna ekspresi yang berbeda dibanding tari pergaulan. Penelitian teater Melayu sebetulnya mempunyai ruang lingkup yang luas, karena tidak terbatas pada satu etnik saja. Perkembangan teater Bangsawan oleh beberapa kalangan dianggap sebagai peralihan dari teater tradisional ke teater modern di Melayu (Bujang, 1975). Di lain pihak ada faktor penting yang tidak bisa diabaikan yakni bahwa teater Bangsawan menggunakan bahasa Melayu, yang pada awal pertumbuhannya memberi sumbangan pada pertumbuhan franca kita.

Menjelang tahun tiga puluh abad ke-20, kita mengalami proses kristalisasi dalam berbagai aspek kehidupan kebangsaan yang rupanya menjadi dasar konkret dalam bidang politik dan sosial budaya. Dasar yang konkret ini bisa melebur menjadi berbagai gejala pengkotakan. Kita pun beranggapan bahwa berbagai kesenian kita yang dapat dibanggakan seperti sastra, musik, tari, dan teater perlu diangkat. Dalam suasana kebangkitan tersebut ada hal baru yang muncul sebagai gejala kebudayaan yang mencerminkan proses kemasyarakatan pada waktu itu. Sejalan dengan kepopuleran bahasa Melayu, muncul teater Bangsawan atau disebut juga Stamboel dalam mengisi selera dan rasa kemelayuan yang kelihatan sangat diperlukan pada masa-masa itu. Teater ini disebut Bangsawan, karena digemari bangsawan Melayu dan keturunannya yang meliputi daerah Semenanjung Sumatera, pesisir Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, Lombok, dan sekitarnya, sedangkan nama Stamboel berasal dari Istamboel, negeri asal seorang keturunan Turki bernama Jaffar yang mengembangkan jenis teater ini (Bujang, 1975).

Penyebaran yang begitu luas menyebabkan kesenian Melayu ataupun kesenian baru yang mendapat inspirasi budaya Melayu berkembang di daerah-daerah tersebut. Menurut cerita, teater Bangsawan muncul karena sejenis wayang Persia yang dipopulerkan oleh keturunan India di Penang, Malaysia, menjelang akhir abad ke-19 mengalami kemunduran. Ciri Persia/India ini memang banyak terdapat di berbagai kesenian Melayu, misalnya pada musik ghazal, chalti, dan dangdut di kemudian hari. Teater Bangsawan menjadi sangat populer pada awal abad ke-20, sehingga memberi inspirasi pada pemunculan berbagai jenis teater rakyat seperti Dermuluk yang ditemukan di Sumatera Selatan dan Bengkulu. Kemudian ada Mamanda yang berkembang di berbagai daerah di Kalimantan. Lenong dari Betawi berkembang dari wayang Senggol yang diduga merupakan pecahan dari teater Bangsawan. Lenong Dines yang kini dikenal mengingatkan kita pada teater Bangsawan yang bentuk permainannya seperti opera atau sambil berpantun-pantun. Yang menarik lagi, tari Janger dari Bali yang muncul pada tahun 1920-an mendapat inspirasi dari komedi Stamboel (Covarubias, 1979). Teater tradisional Minang, Randam, muncul karena mendapat inspirasi dari teater Bangsawan ini.

Berbagai bentuk teater ini mengandung unsur kemelayuan yang jelas terlihat pada unsur cerita, musik pengiring, dan elemen gerak, baik pada sikap teaternya maupun gerak tarinya. Pada kesenian Janger dari Bali dan Randam dari Sumatera Barat unsur tradisi lokalnya lebih dominan, sehingga unsur kemelayuan tidak begitu jelas. Unsur tari Melayu yang bisa mengendap memang tidak banyak. Hal ini karena kelemahan yang terdapat pada seni tari itu sendiri. Penelitian lebih lanjut mengenai merasuknya budaya Melayu ke dalam tari tradisional di berbagai daerah maupun dalam berbagai seni hibrid yang muncul di Indonesia sangat menarik. Penelitian mendalam mengenai hal itu juga masih harus dikembangkan, karena data sementara yang ada diperoleh secara kebetulan, yaitu dilihat atau didengar dari omongan orang dalam berbagai diskusi.

Perlu diketahui bahwa pada proses hibrid dalam kesenian, unsur seni tarilah yang paling cepat mencair dan menghilang dimakan zaman. Bekas-bekas yang tertinggal sudah sangat tipis, karena pola-pola dalam seni tari cepat dilupakan bila tidak ada disiplin yang mengikat eksistensinya atau adanya nilai-nilai tertentu yang mengikatnya pada kegunaan tertentu dalam kehidupan masyarakat. Apabila dalam kesenian ada nilai yang mengikat unsur gerak yang dikaitkan dengan status dalam masyarakat Melayu ataupun dengan pergaulan kehidupan beragama, maka seni tari dapat meninggalkan bekas yang lebih berarti dan terpelihara di masyarakat pendukungnya, seperti padatari Zapin.

Tari Zapin merupakan kesenian Melayu yang kental warna dan napas lslamnya. Tari ini tersebar ke mana-mana. Ada yang mengatakan tari Zapin berasal dari Arab. Menurut cerita, di Siak ada seorang Sultan keturunan Arab yang sangat gemar dengan tari ini dan mengembangkannya sehingga tari ini memiliki status kebangsawanan (Festival Kesenian Rakyat, 1979). Seorang pemuda yang pandai menari Zapin akan bertambah martabatnya dalam mencari jodoh. Hal ini menguntungkan bagi perkembangan tari Zapin di daerah tersebut (Kadir, t.t.). Di berbagai pusat pendidikan Islam di pulau Jawa, tari Zapin dipelihara sebagai keperluan pendidikan kepemudaan (Tim, 1984). Tari Zapin selanjutnya tersebar ke berbagai daerah seperti Kalimantan, Lombok, dan daerah lainnya. Meskipun namanya mengalami perubahan, tetapi tari ini sudah menjadi sarana hiburan umum, seperti tari Jepen di Kalimantan. Di Betawi juga terdapat tari Zapin yang belum lama berkembang.

Di samping itu terdapat sejenis tari yang cukup jelas ciri kemelayuannya dan sudah ada sejak awal abad ke-20, yaitu tari Sambrah. Dahulu tari ini hanya dilakukan oleh kaum pria diiringi orkes harmonium yang memainkan lagu-lagu Melayu. Penari-penarinya sering disebut sebagai ronggeng laki-laki dan sering dikaitkan dengan hiburan orkes Gambus. Bedanya, Sambrah memakai harmonium dan memainkan lagu-lagu Melayu, sedangkan orkes Gambus tanpa harmonium dan lagunya berirama gurun pasir. Kalau dilihat, tariannya menyerupai rentak Senandung dan rentak Mak Inang dan dalam tarian juga digunakan selendang.

Menurut penelitian berbagai ahli, tari senantiasa relevan bagi manusia sejak zaman dahulu hingga kini. Dengan demikian, tari senantiasa mempunyai fungsi dalam kehidupan manusia (Lange, 1975). Fungsi tari tidak bisa lepas dari kebudayaan dan peradaban manusia. Apabila kebudayaan dan peradaban bisa berubah, demikian pula fungsi tari, sehingga tidak aneh kalau ada fungsi lama dan fungsi baru yang berdiri secara bersamaan. Relevansi seni tari sangat bergantung pada fungsi tari tersebut. Tari mudah punah apabila tidak berfungsi lagi. Fungsi tari dapat berubah, karena arti tari bagi masyarakat pendukungnya berubah. Hal ini tergantung pada perkembangan peradaban masyarakat yang bersangkutan. Melalui tari kita bisa menilai tingkat peradaban manusia serta kadar komunikasi, baik antarsesamanya maupun dengan bangsa lain.

Sejalan dengan fungsinya, tari mempunyai nilai. Salah satu fungsi yang bisa dimiliki suatu tari adalah sebagai pengikat rasa persatuan karena di dalamnya terkandung nilai spiritual komunal yang dapat mengikat masing-masing pribadi ke dalam kelompok tertentu. Nilai spiritual dalam tari sangat penting, karena memberi arti fungsional bagi kehidupan manusia. Pergeseran nilai spiritual dalam tari menyebabkan pergeseran fungsinya dan sedikit banyak menentukan perkembangan seni tari. Tingkat, bobot, dan kualitas secara teknis juga tergantung pada nilai spiritual. Pergeseran nilai spiritual bisa menjadi harfiah yang sekadar rekreatif keduniawian dan bisa memiliki kekuatan kerohanian yang dipercaya bisa mengubah gejala duniawi. Kekuatan ini bisa magis dan mempunyai daya penyembuhan terhadap penyakit atau bisa memperbaiki gejala alam yang buruk seperti musim kemarau yang terlalu kering atau musim hujan yang terlalu lama. Apabila dahulu kekuatan ini sifatnya magis, maka pada masa kini dance therapy digunakan dalam penyembuhan penyakit-penyakit tertentu. Hal ini merupakan gejala ilmiah dan tidak ada hubungannya dengan unsur magis.

Nilai-nilai di dalam seni tari sudah disadari bermakna bagi pendidikan umum. Ini terlihat dari munculnya educational dance. Jenis tari ini sudah banyak digunakan sebagai sarana pendidikan formal. Hanya saja di kalangan kita hal ini masih sering disalahtafsirkan dan masih banyak terjadi salah penanganan di sekolah-sekolah umum, terutama di kalangan anak-anak. Pergeseran dan pemekaran tari juga dimiliki oleh cabang kesenian lainnya dengan kadar komunikasi yang berbeda-beda. Dalam pemanfaatannya, metode interdisipliner lebih sering diterapkan, karena sasarannya bukan bobot artistik, tetapi lebih pada makna pendidikan. Munculnya fungsi baru tidak mematikan fungsi lama atau fungsi hakikinya sebagai seni. Keduanya saling menunjang dan saling memberi masukan untuk perkembangannya. Faktor negatif dan kemungkinan destruktif tetap ada, hanya perlu dijaga dan dibatasi ataupun diperkecil, sehingga keuntungan dan manfaatnya bisa diperbesar.

Melayu sebagai pokok pembahasan berpijak pada tiga simpai perekat kesamaan dan sebagai jati diri, yakni: adat-istiadat, bahasa, dan agama (Kadir, t.t.). Melalui ketiga ciri ini kita bisa berbicara tentang orang dalam dan orang luar, orang kita dan orang lain, dan sebagainya. Pengkotakan yang berasal dari masa lalu ini kelihatannya sudah memudar, sehingga kini kita berbicara tentang Melayu Indonesia, Melayu Malaysia, Melayu Brunei Darussalam, dan seterusnya. Dalam konteks Indonesia, kita berbicara tentang Melayu Riau, Melayu Jambi, Melayu Pontianak, Melayu Banjar, dan seterusnya. Pengkotakan ini berfungsi untuk memperoleh sorotan lebih tajam dilihat dari segi kependudukan yang bertolak dari geografi.

Apabila dalam pembahasan seni tari kita mau membatasi diri pada Melayu Riau, maka tidak banyak yang bisa dibicarakan. Penulisan tentang hal ini belum banyak, kalaupun ada mungkin dari tokoh tari Melayu seperti T. Luckman Sinar, T. Sitta Syaritsa, dan T. Nazly A. Mansur. Di samping itu, kita berusaha menarik informasi sebanyak mungkin dari karya sastra dan budaya Melayu pada umumnya ataupun dari karya klasik sastra Melayu pada khususnya seperti Sejarah Melayu dan Sulalatussalatin. Dalam dua tulisan klasik tersebut ditemukan beberapa istilah menari seperti berlayam, yaitu menari dengan melila-lilakan pedang, perisai, dan lain-lain, dan mengigal, yaitu menari dengan gaya menarik, sedangkan versi lain dari tulisan ini mengartikan mengigal dengan menari mengikuti gaya Sunda. Selain itu, ada istilah tari seperti menandak dan joget. Penggambaran ini muncul ketika Raja Malaka berkunjung ke Majapahit. Tarian-tarian yang digambarkan cenderung tari hiburan kraton. Istilah tari seperti igal, tandak, dan joget lazim dikenal di daerah Jawa. Sejarah tari Melayu meliputi periode sebelum Malaka dikuasai Portugis, yaitu sebelum abad ke-16, setelah itu pusat Kerajaan Melayu pindah ke selatan Johor dan Kepulauan Riau.

Sudah waktunya untuk menemukan data segar supaya seni tari Melayu dalam berbagai perkembangan budaya kita bisa lebih dimengerti, dan supaya pembahasan tentang fungsi tari tidak kembali ke fungsi lain yang sudah hilang atau memudar. Melihat tari melalui sudut pandang antropologis bisa membuka tabir ketertutupan seni tari Melayu, karena sudut pandang itu melihat tari dari kedudukannya yang paling hakiki dalam kehidupan manusia (Lange, t.t.). Tari sebagai komponen budaya manusia memiliki fungsi khusus seperti nilai sosial, nilai ritual, pengobatan, dan rekreasional. Tari-tari upacara yang mempunyai kekuatan-kekuatan magis mempunyai bobot kualitas gerak yang lebih tinggi daripada tari yang bermakna rekreasional karena nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Tari-tari sejenis ini dapat berkembang menjadi tari pentas dan bisa memiliki disiplin tertentu, sedangkan tari sosial yang bermakna rekreasional yang mempunyai fungsi dalam rasa kebersamaan dan kekeluargaan suatu kelompok masyarakat tertentu perlu memiliki bobot gerak yang lebih lentur.

Fungsi tari dalam kehidupan masyarakat juga membawa akibat pada standar teknis dan kualitas gerak. Tari yang bermakna rekreasional dan berfungsi sebagai tari pergaulan biasanya dilakukan oleh siapa saja yang mau menari. Gerakannya sederhana dan ringan, tidak terlalu sukar dan tanpa aturan yang rumit, sedangkan tari upacara yang bermakna ritual dan berkekuatan magis biasanya hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah disiapkan atau oleh penari yang fisik dan jiwanya sudah terlatih. Tari-tari sejenis ini menuntut disiplin yang tinggi dan mempunyai aturanaturan yang perlu dipelajari untuk diketahui dan dipahami, agar bisa berfungsi sebagai kekuatan spiritual yang diharapkan masyarakat.

Pada zaman dahulu kita mengenal adanya pendeta-pendeta yang pandai menari dalam upacara ritual. Kalaupun bobot geraknya menurun di kemudian hari, karena falsafah yang terlalu puritan, maka tari itu masih tetap dianggap perlu untuk berpegang secara teguh pada sikap-sikap tertentu yang sangat ritual, baik dalam keadaan diam maupun bergerak. Sikap dalam upacara kenegaraan masih berpegang pada etik protokoler yang bersumber pada kebiasaan kuno, di mana orang lebih suka menari untuk hikmat. Pada masa sekarang pun masih dapat kita jumpai upacara sakral yang disertai tarian, misalnya pada segolongan masyarakat tertentu yang beribadat di kelenteng ada kebiasaan (adat) melakukan upacara sembahyang yang dikaitkan dengan tarian. Upacara ini dilakukan pada malam hari ketika menunggu mayat/orang mati. Penari-penarinya profesional dan barangkali biksu dari kelenteng tertentu.

Pada orang Melayu pun adat kebiasaan yang demikian juga masih ada, tetapi selalu dikaitkan dengan adat kebiasaan yang berlaku dalam budaya Islam. Tari-tarian yang bermakna sakral ini banyak yang sudah punah. Berbagai teater tradisional ada kalanya memiliki unsur tari di dalamnya yang masih dikaitkan dengan makna spiritual, seperti misalnya memohon keselamatan, mengucapkan terima kasih agar selamat keluar dari malapetaka atau mendapat rahmat tertentu dari Yang Mahakuasa, seperti pada ruwatan dan kaulan yang masih dilaksanakan di Pulau Jawa dan tempat-tempat lain. Sudah tentu dalam kebudayaan Melayu hal demikian juga masih ada, seperti upacara Tepung Tawar yang sangat khas di Melayu. Di tempat asalnya, Teater Makyong masih dilaksanakan untuk kepentingan yang demikian dan didahului dengan upacara Buka Tanah yang merupakan permohonan doa restu untuk keselamatan pemain dan penontonnya. Elemen upacara tersebut, pertama-tama terletak pada unsur tanah seperti juga terdapat pada namanya, kemudian beras, telur, dan lain-lain yang biasanya berhubungan dengan pangan.

Teater Makyong adalah teater tradisional Melayu yang terdapat di daerah Riau, Sumatera Timur, dan juga di Malaysia. Melihat pada peninggalannya, Makyong di masa lalu selalu disponsori oleh pihak istana Melayu. Jika diperhatikan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya, Makyong ini tampaknya berangkat dari seni tari rakyat seperti Joget, Tandak, dan Ronggeng Melayu. Beberapa pendapat mengatakan bahwa Makyong berfungsi sebagai pelipur lara belaka, tetapi menilik pada upacara Buka Tanah yang sekarang masih dilaksanakan di Pulau Bintan, pasti ada makna lebih dalam, yang mungkin juga spiritual, daripada sekadar sebagai pelipur lara saja.

Menurut Mubin Sheppard (1974), kesenian Makyong, bila dihubungkan dengan namanya adalah bentuk kesenian yang dikaitkan dengan bentuk pemujaaan Ma‘Hyang atau The Mother Spirit yang sebetulnya merupakan bentuk pemujaan masyarakat yang berkebudayaan padi atau beras. Ini dapat dikaitkan dengan Dewi Sri yang sudah kita kenal sebagai dewi padi. Di samping itu, kata Hyang mengingatkan kita pada Sang Hyang yang kita jumpai pada budaya Hindu di Bali dan orang Dayak di Kalimantan Tengah. Pemujaan terhadap Ibu Agung/The Mother Spirit bisa dilanjutkan, demikian juga dengan kata Hyang tersebut. Dengan demikian bisa dimengerti bahwa pada Teater Makyong ada nilai spiritual, tapi tidak pernah disadari dan dikembangkan untuk kegunaan masa kini, sehingga dibiarkan saja dan menunjukkan tanda kepunahan seperti sekarang ini.

Dalam penelitiannya di Desa Betung, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Kampar, Ashley M. Turner (1985) masih menemukan tari-tarian yang disebutnya sebagai tari Belian yang mempunyai makna pengobatan. Tari ini dilakukan oleh pria-pria yang menari sambil trance. Tari dengan permainan Belian ini juga masih terdapat di Kalimantan dan Sulawesi dengan makna magis yang sama, sedangkan di Jawa hal ini sudah menjadi istilah yang berarti tarian. Sebetulnya peninggalan ini menunjukkan bahwa nilai spiritual tari Melayu bagi masyarakat tertentu masih dihayati, tetapi masyarakat kota sudah tidak menyadarinya lagi dan cenderung mengembangkan tari yang bermakna pelipur lara saja seperti jenis Ronggeng, Tandak, dan Joget yang telah menurunkan nilai dan fungsinya setelah abad ke-19, sehingga kini mendapat konotasi kurang baik, yaitu dikaitkan dengan tuna-susila. Kondisi buruknya ekonomi Indonesia yang betul-betul terasa setelah abad ke-19 menyebabkan kemusnahan dan degenerasi yang sedemikian rendah. Mungkin masalah ini bisa dikaitkan dengan akibat negatif yang ditimbulkan oleh tanam paksa atau cultuurstelsel.

Dalam perkembangan kehidupan kebangsaan sekarang, kita harus berbicara tentang fungsi tari yang menunjang martabat bangsa kita atau yang diperlukan dalam meningkatkan kecerdasan bangsa kita. Dalam pembinaan teknis keahlian tari, kita sudah harus berbicara mengenai fungsi seni yang bisa dibagi berdasarkan kepentingan, yaitu: (1) seni pertunjukan, yang menurut bentuknya terdiri dari seni tari, seni teater, seni musik, dan lain-lain, (2) keperluan substantif dalam pendidikan umum, pergaulan sosial, penerangan masyarakat, dan lain-lain.

Faktor yang tidak bisa diabaikan dalam pengembangan fungsi kesenian adalah nilai spiritualnya. Nilai ini diperlukan untuk memberi bobot kesungguhan dan mutu artistik dalam penyajiannya. Yang perlu dipermasalahkan adalah bahwa nilai spritual masa kini tidak senantiasa harus sama dengan nilai masa lalu. Secara harafiah banyak nilai tersebut yang sudah tidak berfungsi lagi, akan tetapi inti spiritualnya perlu tetap ada. Hal ini tidak saja menyangkut masalah penjiwaan dari penari, tetapi juga teknik penggarapan dan koreografinya.

Tari yang mendukung keperluan sosial ditekankan pada kegunaan sosialnya. Demikian pula untuk keperluan pergaulan rekreatif, kepentingan tari hendaknya tidak diterapkan sebagai seni pertunjukan ataupun sebaliknya. Sasaran artistik cenderung menuntut penguasaan teknik yang tinggi. Kita harus sadar bahwa sasaran artistik bisa dimanipulasi menurut kepentingannya, sehingga makna sebenarnya kabur. Selama masalah harafiah ditempatkan pada kedudukan yang sebenarnya tanpa berkedok kepentingan kontemplatif, gejala ini tidak perlu dipermasalahkan karena dalam prosesnya dia akan luntur.

Kita perlu berhati-hati dalam proses revitalisasi. Seringkali muncul gejala-gejala aneh dan tidak wajar yang bisa merusak lingkungan kehidupan. Kesenian ibarat tumbuh-tumbuhan, yakni apabila sudah mati kita hidupkan lagi, maka mungkin itu yang kita permasalahkan. Ibarat seni dekoratif, tidak perlu dipelihara sebagai suatu kehidupan. Seni tari yang dekoratif mempunyai sasaran harafiah belaka dan bermakna dalam jangka waktu yang pendek. Akan tetapi, apabila ada maksud lebih jauh dan dalam dari revitalisasi, maka harus ada sisa-sisa kehidupan dan makna yang jelas. Revitalisasi memerlukan daya, dana, dan konsekuensi lain yang perlu dipertanggungjawabkan sebagai usaha kebudayaan menuju kemajuan adab, kesejahteraan, dan keadilan sosial.

Daftar Pustaka
Bujang, R. 1975. Sejarah Perkembangan Drama Bangsawan.

Covarrubias, M. 1979. The Island of Bali. Kuala Lumpur: Oxford University Press.

Festival Kesenian Rakyat. 1979. Pekanbaru.

Kadir, M. D. T.t. lnteraksi Sosial.

Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Lange, R. 1975. The Nature of Dance: An Anthropological Perspective. London.

Marsden. T.t. The History of Sumatera.

Sheppard, M. Ma‘yong: The Malay Dance Drama. Kuala Lumpur.
Sinar, T. L. 1976. Paper Lokakarya Tari Melayu. Jakarta.

Susanto, A. S. 1980. Komunikasi Sosial di Indonesia. Bandung.

Turner, A. M. 1985. Final Report on Research Proyect, IKJ.
__________
Makalah ini disampaikan pada Seminar “Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya”, yang diselenggarakan di Tanjung Pinang, Riau


Read Users' Comments (0)

Budaya Sunda, Antara Mitos dan Realitas


Gimana menurut pandangan anda tentang Budaya Sunda, Antara Mitos dan Realitas? tolong berikan komentar setelah selesai membaca.

Oleh Drs. Reiza D. Dienaputra, M.Hum.

W.S. Rendra dalam Kongres Kebudayaan IV di Jakarta, 29 Oktober - 3 November 1991, mengemukakan bahwa setidaknya ada tujuh daya hidup yang harus dimiliki oleh sebuah kebudayaan. Pertama, kemampuan bernapas. Kedua, kemampuan mencerna. Ketiga, kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi. Keempat, kemampuan beradaptasi. Kelima, kemampuan mobilitas. Keenam, kemampuan tumbuh dan berkembang. Ketujuh, kemampuan regenerasi.

Kemampuan bernapas dalam kebudayaan dimaknai sebagai kemampuan untuk mengolah hawa menjadi prana, menjaga kebersihan udara, mengharmonikan kegiatan kehidupan dengan irama nafas, serta menghilangkan hal-hal yang menimbulkan ketegangan pada pikiran yang berarti menimbulkan kesesakan pada nafas kehidupan. Kemampuan mencerna dimaknai sebagai kemampuan untuk mencernakan berbagai pengalaman dalam kehidupan. Kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi dimaknai sebagai kemampuan berinteraksi secara sosial.

Kemampuan beradaptasi dimaknai sebagai kemampuan kesadaran untuk secara kreatif mengatasi tantangan keadaan, tantangan zaman, dan tantangan berbagai ragam pergaulan. Kemampuan mobilitas dimaknai sebagai kemampuan untuk dengan kreatif menciptakan mobilitas sosial, politik, dan ekonomi, baik yang bersifat horizontal maupun vertikal.

Kemampuan tumbuh dan berkembang diartikan sebagai kemampuan kesadaran untuk selalu maju, selalu bertambah luas, dan dalam wawasannya selalu menawarkan paradigma-paradigma yang segar dan baru. Kemampuan regenerasi dimaknai sebagai kemampuan untuk mendorong munculnya generasi baru yang kreatif dan produktif.

Di samping daya hidup, unsur lain lagi yang juga penting dalam suatu kebudayaan adalah mutu hidup. Mutu hidup bukanlah merupakan kesempurnaan tetapi lebih dimaknai sebagai kewajaran. Adapun kewajaran dalam hidup manusia merupakan harmoni tiga mustika, yakni, tanggung jawab kepada kewajiban, idealisme, dan spontanitas. Tanggung jawab kepada kewajiban dimaknai sebagai sebuah kesadaran untuk selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban secara penuh sesuai dengan tanggung jawab sosialnya.

Idealisme dimaknai sebagai rumusan sikap hidup seseorang di dalam menempuh padang dan hutan belantara kehidupan. Idealisme sekaligus merupakan sumber kepuasan batin seseorang. Spontanitas dimaknai sebagai ungkapan naluri dan intuisi manusia. Tanpa spontanitas akan menyebabkan hidup menjadi kering dan hambar.

Daya hidup
Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan suku bangsa di Indonesia yang berusia tua. Bahkan, dibandingkan dengan kebudayaan Jawa sekalipun, kebudayaan Sunda sebenarnya termasuk kebudayaan yang berusia relatif lebih tua, setidaknya dalam hal pengenalan terhadap budaya tulis. "Kegemilangan" kebudayaan Sunda di masa lalu, khususnya semasa Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda, dalam perkembangannya kemudian seringkali dijadikan acuan dalam memetakan apa yang dinamakan kebudayaan Sunda.

Kebudayaan Sunda yang ideal pun kemudian sering dikaitkan sebagai kebudayaan raja-raja Sunda atau tokoh yang diidentikkan dengan raja Sunda. Dalam kaitan ini, jadilah sosok Prabu Siliwangi dijadikan sebagai tokoh panutan dan kebanggaan urang Sunda karena dimitoskan sebagai raja Sunda yang berhasil, sekaligus mampu memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.

Dalam perkembangannya yang paling kontemporer, kebudayaan Sunda kini banyak mendapat gugatan kembali. Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda pun sering kali mencuat ke permukaan. Apakah kebudayaan Sunda masih ada? Kalau masih ada, siapakah pemiliknya? Pertanyaan seputar eksistensi kebudayaan Sunda yang tampaknya provokatif tersebut, bila dikaji dengan tenang sebenarnya merupakan pertanyaan yang wajar-wajar saja. Mengapa demikian? Jawabannya sederhana, karena kebudayaan Sunda dalam kenyataannya saat ini memang seperti kehilangan ruhnya atau setidaknya tidak jelas arah dan tujuannya. Mau dibawa ke mana kebudayaan Sunda tersebut?

Kalaulah kemudian tujuh daya hidup kreasi Rendra digunakan untuk mengelaborasi kebudayaan Sunda kontemporer, setidaknya ada empat daya hidup yang perlu dicermati dalam kebudayaan Sunda, yaitu, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi. Kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda, terutama dalam merespons berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar, dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, kebudayaan Sunda seperti tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar.

Akibatnya, tidaklah mengherankan bila semakin lama semakin banyak unsur kebudayaan Sunda yang tergilas oleh kebudayaan asing. Sebagai contoh paling jelas, bahasa Sunda yang merupakan bahasa komunitas urang Sunda tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda Sunda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan bahasa Sunda dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan "keterbelakangan", untuk tidak mengatakan primitif. Akibatnya, timbul rasa gengsi pada urang Sunda untuk menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa "gengsi" ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang bahasa Sunda, termasuk untuk sekadar mengakui bahwa dirinya adalah pakar atau berlatar belakang keahlian di bidang bahasa Sunda.

Apabila kemampuan beradaptasi kebudayaan Sunda memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan, hal itu sejalan pula dengan kemampuan mobilitasnya. Kemampuan kebudayaan Sunda untuk melakukan mobilitas, baik vertikal maupun horizontal, dapat dikatakan sangat lemah. Oleh karenanya, jangankan di luar komunitas Sunda, di dalam komunitas Sunda sendiri, kebudayaan Sunda seringkali menjadi asing. Meskipun ada unsur kebudayaan Sunda yang memperlihatkan kemampuan untuk bermobilitas, baik secara horizontal maupun vertikal, secara umum kemampuan kebudayaan Sunda untuk bermobilitas dapat dikatakan masih rendah sehingga kebudayaan Sunda tidak saja tampak jalan di tempat tetapi juga berjalan mundur.

Berkaitan erat dengan dua kemampuan terdahulu, kemampuan tumbuh dan berkembang kebudayaan Sunda juga dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang tidak kalah memprihatinkan. Jangankan berbicara paradigma-paradigma baru, iktikad untuk melestarikan apa yang telah dimiliki saja dapat dikatakan sangat lemah. Dalam hal folklor misalnya, menjadi sebuah pertanyaan besar, komunitas Sunda yang sebenarnya kaya dengan folklor, seberapa jauh telah berupaya untuk tetap melestarikan folklor tersebut agar tetap "membumi" dengan masyarakat Sunda.

Kalaulah upaya untuk "membumikan" harta pusaka saja tidak ada bisa dipastikan paradigma baru untuk membuat folklor tersebut agar sanggup berkompetisi dengan kebudayaan luar pun bisa jadi hampir tidak ada atau bahkan mungkin, belum pernah terpikirkan sama sekali. Biarlah folklor tersebut menjadi kenangan masa lalu urang Sunda dan biarkanlah folklor tersebut ikut terkubur selamanya bersama para pendukungnya, begitulah barangkali ucap urang Sunda yang tidak berdaya dalam merawat dan memberdayakan warisan leluhurnya.

Berkenaan dengan kemampuan regenerasi, kebudayaan Sunda pun tampaknya kurang membuka ruang bagi terjadinya proses tersebut, untuk tidak mengatakan anti regenerasi. Budaya "kumaha akang", "teu langkung akang", "mangga tipayun", yang demikian kental melingkupi kehidupan sehari-hari urang Sunda dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab rentannya budaya Sunda dalam proses regenerasi. Akibatnya, jadilah budaya Sunda gagap dengan regenerasi.

Generasi-generasi baru urang Sunda seperti tidak diberi ruang terbuka untuk berkompetisi dengan sehat, hanya karena kentalnya senioritas serta "terlalu majunya" pemikiran para generasi baru, yang seringkali bertentangan dengan pakem-pakem yang dimiliki generasi sebelumnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan bila proses alih generasi dalam berbagai bidang pun berjalan dengan tersendat-sendat.

Bila pengamatan terhadap daya hidup kebudayaan Sunda melahirkan temuan-temuan yang cukup memprihatinkan, hal yang sama juga terjadi manakala tiga mustika mutu hidup kreasi Rendra digunakan untuk menjelajahi Kebudayaan Sunda, baik itu mustika tanggung jawab terhadap kewajiban, mustika idealisme maupun mustika spontanitas. Lemahnya tanggung jawab terhadap kewajiban tidak saja diakibatkan oleh minimnya ruang-ruang serta kebebasan untuk melaksanakan kewaijiban secara total dan bertanggung jawab tetapi juga oleh lemahnya kapasitas dalam melaksanakan suatu kewajiban.

Hedonisme yang kini melanda Kebudayaan Sunda telah mampu menggeser parameter dalam melaksanakan suatu kewajiban. Untuk melaksanakan suatu kewajiban tidak lagi didasarkan atas tanggung jawab yang dimilikinya, tetapi lebih didasarkan atas seberapa besar materi yang akan diperolehnya apabila suatu kewajiban dilaksanakan. Bila ukuran kewajiban saja sudah bergeser pada hal-hal yang bersifat materi, janganlah berharap bahwa di dalamnya masih ada apa yang disebut mustika idealisme. Para hedonis dengan kekuatan materi yang dimilikinya, sengaja atau tidak sengaja, semakin memupuskan idealisme dalam kebudayaan Sunda. Akibatnya, jadilah betapa sulitnya komunitas Sunda menemukan sosok-sosok yang bekerja dengan penuh idealisme dalam memajukan kebudayaan Sunda.

Daya mati

Berpijak pada kondisi lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda, timbul pertanyaan besar, apa yang salah dengan kebudayaan Sunda? Untuk menjawab ini banyak argumen bisa dikedepankan. Tapi dua di antaranya yang tampaknya bisa diangkat ke permukaan sebagai faktor berpengaruh paling besar adalah karena ketidakjelasan strategi dalam mengembangkan kebudayaan Sunda serta lemahnya tradisi, baca, tulis , dan lisan (baca, berbeda pendapat) di kalangan komunitas Sunda.

Ketidakjelasan strategi kebudayaan yang benar dan tahan uji dalam mengembangkan kebudayaan Sunda tampak dari tidak adanya "pegangan bersama" yang lahir dari suatu proses yang mengedepankan prinsip-prinsip keadilan tentang upaya melestarikan dan mengembangkan secara lebih berkualitas kebudayaan Sunda. Kebudayaan Sunda tampaknya dibiarkan berkembang secara liar, tanpa ada upaya sungguh-sungguh untuk memandunya agar selalu berada di "jalan yang lurus", khususnya manakala harus berhadapan dengan kebudayaan-kebudayaan asing yang galibnya terorganisasi dengan rapi serta memiliki kemasan menarik. Berbagai unsur kebudayaan Sunda yang sebenarnya sangat potensial untuk dikembangkan, bahkan untuk dijadikan model kebudayaan nasional dan kebudayaan dunia tampak tidak mendapat sentuhan yang memadai. Ambillah contoh, berbagai makanan tradisional yang dimiliki urang Sunda, mulai dari bajigur, bandrek, surabi, colenak, wajit, borondong, kolontong, ranginang, opak, hingga ubi cilembu, apakah ada strategi besar dari pemerintah untuk mengemasnya dengan lebih bertanggung jawab agar bisa diterima komunitas yang lebih luas. Kalau Kolonel Sanders mampu mengemas ayam menjadi demikian mendunia, mengapa urang Sunda tidak mampu melahirkan Mang Ujang, Kang Duyeh, ataupun Bi Eha dengan kemasan-kemasan makanan tradisional Sunda yang juga mendunia?

Lemahnya budaya baca, tulis, dan lisan ditengarai juga menjadi penyebab lemahnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan Sunda. Lemahnya budaya baca telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Lemahnya budaya tulis pada komunitas Sunda secara tidak langsung merupakan representasi pula dari lemahnya budaya tulis dari bangsa Indonesia. Fakta paling menonjol dari semua ini adalah minimnya karya-karya tulis tentang kebudayaan Sunda ataupun karya tulis yang ditulis oleh urang Sunda. Dalam kaitan ini, upaya Yayasan Rancage untuk memberikan penghargaan dalam tradisi tulis perlu mendapat dukungan dari berbagai elemen urang Sunda. Sayangnya, hingga saat ini pertumbuhan tradisi tulis pada urang Sunda masih tetap terbilang rendah.

Menurut A. Chaedar Alwasilah (2003), setidaknya ada sebelas ayat sesat yang telah menyebabkan lemahnya budaya tulis. Pertama, anggapan bahwa literasi adalah kemampuan membaca. Kedua, anggapan bahwa mahasiswa tidak perlu diajari cara menulis. Ketiga, anggapan bahwa penguasaan teori menulis akan membuat siswa mampu menulis. Keempat, anggapan bahwa tidak mungkin mengajarkan menulis pada kelas-kelas besar. Kelima, anggapan bahwa menulis dapat diajarkan manakala siswa telah menguasai tata bahasa. Keenam, anggapan bahwa karangan yang sulit dipahami memperlihatkan kehebatan penulisnya. Ketujuh, anggapan bahwa menulis hanya dapat diajarkan manakala siswa sudah dewasa. Kedelapan, anggapan bahwa menulis karangan naratif dan ekspositoris harus lebih dahulu diajarkan daripada genre-genre lainnya. Kesembilan, anggapan bahwa pengajaran bahasa adalah tanggung jawab guru bahasa. Kesepuluh, anggapan bahwa menulis mesti diajarkan lewat perkuliahan bahasa. Kesebelas, anggapan bahwa bacaan atau pengajaran sastra hanya relevan bagi (maha) siswa fakultas sastra.

Budaya lisan dalam kebudayaan Sunda sebenarnya merupakan budaya yang telah lama akrab dengan komunitas Sunda, bahkan usianya jauh lebih tua dibandingkan dengan budaya baca dan tulisan. Namun, budaya lisan dalam pengertian kapasitas untuk mengemukakan pendapat serta berjiwa besar dalam menghadapi pendapat yang berbeda masih merupakan barang yang masih amat sangat langka dalam Kebudayaan Sunda. Tradisi lisan Sunda tampaknya baru mampu menghargai komunikasi model monolog dan bukannya dialog. Akibatnya, kemampuan untuk menyampaikan pendapat dan menerima pendapat yang berbeda dalam Kebudayaan Sunda merupakan barang yang teramat mewah. Padahal, kapasitas untuk mengemukakan pendapat dan menerima pendapat yang berbeda ini menjadi salah satu dasar bagi munculnya daya hidup dan mutu hidup kebudayaan yang berkualitas. Kapasitas mengemukakan pendapat pada dasarnya merupakan representasi dari kemampuan bernafas dan mencerna, sementara kapasitas menerima dengan jiwa besar pendapat yang berbeda lebih merupakan representasi dari kemampuan berkoordinasi dan berorganisasi, kemampuan beradaptasi, kemampuan mobilitas, kemampuan tumbuh dan berkembang, serta kemampuan regenerasi.***

Penulis Lektor Kepala pada Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran serta Sekretaris Jenderal Pusat Kajian Lintas Budaya Bandung.

Sumber : http://klipingkumincir.blogspot.com

Read Users' Comments (0)

Sastrawan Riau dan Sastra Indonesia Mutakhir


Gimana menurut pandangan anda tentang Sastrawan Riau dan Sastra Indonesia Mutakhir? tolong berikan komentar setelah selesai membaca.

Oleh : Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono

Perkembangan sastra Indonesia merupakan kelanjutan dar sastra Melayu. Berdasarkan pandangan ini tentu para sastrawan lama dari daerah-daerah yang berbahasa Melayu merupakan pelopor sastra Indonesia modern. Tidak mengherankan bila karya-karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Raja Ali Haji, Hamzah Fansyuri, dan lain-lain dianggap sebagai bagian dari sastra Indonesia. Dalam kurun waktu terakhir ini, penyair Sutardji Calzoum Bachri â€"yang ingin mengembalikan kata kepada mantraâ€" muncul dalam arena perpuisian Indo¬nesia. Sebagai seorang sastrawan Riau, ia telah memberikan sumbangan cukup besar terhadap sastra Indonesia mutakhir.

1. Pendahuluan
Judul tulisan ini menyiratkan bahwa sastrawan yang berasal dari Riau telah memberikan sumbangan bagi perkembangan sastra Indonesia mutakhir, suatu masa yang kita batasi sejak akhir tahun 60-an sampai terselenggaranya seminar ini. Judul itu tentu juga menyiratkan bahwa sastrawan dari daerah lain seperti Sunda, Kalimantan, dan Sumatera Barat bisa dan mungkin telah berbuat serupa. Sastra Indonesia yang kita miliki sekarang ini diciptakan oleh sastrawan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, karena bahasa Indonesia tidak lagi secara resmi menjadi milik daerah dan sukubangsa tertentu. Bahkan, boleh dikatakan bahasa ini telah mendesak bahasa-bahasa ibu yang dimiliki se¬bagian besar orang Indonesia.

Anggapan yang secara luas diterima umum sekarang ini adalah bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Setidaknya, mau tidak mau harus diakui bahwa sebagian besar orang terpelajar kita sekarang ini tidak akan menemui kesulitan besar membaca karangan yang ditulis dalam bahasa Melayu, termasuk yang ditulis lebih dari satu abad yang lampau. Setidaknya, ditinjau dari segi tata bahasa dan kosakata, jelas tampak adanya kesinambungan antara bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Oleh karena sastra me¬rupakan bidang seni yang tidak terpisahkan dari bahasa sebagai alat penyampaiannya, maka sastra Indonesia dianggap sebagai perkembangan yang wajar dari sastra Melayu. Berdasarkan pan¬dangan ini tentu saja para sastra¬wan lama dari daerah-daerah yang berbahasa Melayu dicantumkan sebagai pe¬lo¬por sastra Indonesia modern. Tidak meng¬herankan apabila karya-karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, Hamzah Fansuri, dan Raja Ali Haji dianggap sebagai bagian dari sastra Indonesia, sedangkan ciptaan para sastrawan lain yang sezaman, tetapi ditulis dalam bahasa daerah, dikategorikan sebagai sastra daerah.

Apabila kita berpegang pada pandangan tersebut harus dikatakan bahwa sumbangan yang pernah diberikan oleh sastrawan lama dari Riau bagi sastra Indonesia sangat besar. Setidaknya diakui bahwa pada abad kesembilan belas, sejumlah besar sastrawan dari Riau telah menulis dan menerbitkan syair-syair yang jumlahnya sangat banyak. Syair merupakan bentuk puisi yang dikenal luas di daerah-daerah berbahasa Melayu (Riau khususnya), meskipun para sastrawan pada abad kesembilan belas juga menghasilkan prosa. Syair umumnya di¬pergunakan untuk berkisah dan menyampaikan nasihat.

Berdasarkan bentuk dan isinya, ada dua hal yang bisa dicatat. Pertama, para penyair Riau masa itu, yang kebanyakan berasal dari Penyengat dan masih seketurunan, ternyata menyukai syair, salah satu bentuk tetap dalam puisi Melayu. Bentuk lain yang juga dipergunakan sebaik-baiknya, seperti gurindam yang dikenal luas di daerah-daerah lain di Indonesia berkat karya Raja Ali Haji, adalah juga suatu bentuk tetap. Kedua, kisah dan nasihat mem¬butuhkan cara pengungkapan yang relatif mudah dipahami dan ditafsirkan. Umum¬nya, untuk mencapai kedua maksud tersebut, maka makna ganda tidak diutamakan, bahkan dihindari.

Pada saat para sastrawan dari Penyengat itu bekerja, masyarakat Riau tentu juga melisankan jenis sastra dan bentuk puisi yang ber¬beda. Di samping dongeng dan kisah yang dilisankan, jenis sastra lain seperti mantra pun tentu diucapkan. Mantra-mantra itu, meski ti¬dak tersimpan serapi naskah-naskah yang diterbitkan di Penyengat dan Singapura, namun dianggap sebagai bagian sastra lama kita dan be¬berapa di antaranya muncul dalam beberapa buku pelajaran ke¬susastraan Indonesia.

Syair dan mantra sebenarnya merupakan dua bentuk puisi yang juga dikenal di luar daerah-daerah berbahasa Melayu, tentu dengan nama-nama yang berlainan. Namun, sumbangan sastrawan lama Melayu bagi perkembangan sastra Indonesia tampak lebih jelas dibandingkan dengan yang diberikan oleh sastrawan dari daerah-daerah lain, karena bahasa Melayu memang paling mirip dengan bahasa persatuan kita ini. Seperti sudah disinggung, Riau menempati kedudukan penting dalam sejarah sastra lama Indonesia.

2. Sumbangan Riau Kepada Puisi Indonesia Modern
Sementara itu di Jawa pada akhir abad kesembilan belas, bersamaan dengan kegiatan para sastrawan dari Penyengat, sastra mo¬dern yang juga ditulis dalam bahasa Melayu mulai berkembang. Kegiatan yang semakin lama semakin marak itu antara lain ditandai oleh berdirinya sebuah badan penerbit yang dikenal dengan nama Balai Pustaka, yang sepenuhnya digerakkan oleh pemerintah kolo¬nial Belanda waktu itu. Oleh beberapa pengamat, sastra terbitan Balai Pustaka sejak dasawarsa kedua abad ke-20 dianggap sebagai awal perkembangan sastra Indonesia modern. Dalam kegiatan yang terutama terjadi di Jawa itu, tampaknya peran para sastrawan dari Riau tidak begitu menonjol.

Perlu dicatat bahwa kegiatan sastra pada masa itu yang dimulai sejak sekitar akhir abad sebelumnya sampai Belanda me¬ninggalkan Indo¬nesia, tidak terbatas pada penerbit Balai Pustaka saja. Balai Pustaka sebelum Perang Dunia II telah menghasilkan sastra berbahasa Melayu yang banyak berkiblat ke Sumatera Barat, karena banyak penulisnya yang berasal dari daerah tersebut. Pada waktu itu, bahasa Melayu rupanya tidak lagi merupakan milik khusus sastrawan dari daerah-daerah berbahasa Melayu. Orang Sunda, orang Bali, orang Jawa, orang Belanda, dan orang Cina pun mulai menciptakan sastra da¬lam bahasa Melayu.

Namun, rupanya penulis puisi terpenting sebelum Perang Dunia II, Amir Hamzah, adalah seorang pangeran Melayu, meski¬pun tidak berasal dari Penyengat. Sesudah kemerdekaan, sastra Indonesia tampaknya mulai diisi oleh karya-karya penting yang ditulis oleh para sastrawan yang tidak berasal dari daerah-daerah berbahasa Melayu. Setelah kematian Chairil Anwar tahun 1949, puisi Indonesia mendapat sumbangan berharga dari para penyair yang berasal dari Pulau Jawa, seperti Ramadhan K.H., Toto Sudarto Bachtiar, dan Rendra. Mereka itu berasal dari daerah-daerah yang memiliki sastra lama sendiri, yang ketika mulai menulis dulu mungkin sekali tidak memiliki gambaran tentang kegiatan sastra di Penyengat. Sampai dengan tahun 60-an boleh dikatakan tidak pernah dibicarakan munculnya penyair penting yang berasal dari Riau.

Baru sekitar paruh pertama dasawarsa ketujuh abad ke-20, puisi Indonesia modern mendapat sumbangan yang nyata dari seorang penyair yang berasal dan Riau, Sutardji Calzoum Bachri. Ia menulis puisi yang berbeda bentuknya dari yang dihasilkan kebanyakan penyair Penyengat. Puisinya lebih dekat ke puisi yang dilisankan oleh pawang. Seperti katanya sendiri, “Maka menulis puisi bagi penulis adalah mengembalikan kata kepada mantra.” Nyatanya, sumbangan penyair ini terhadap perkembangan sastra Indonesia antara lain adalah pada penyampaian puisi kepada khalayak secara lisan. Segi inilah yang akan dibicarakan secara khusus dalam tulisan ini, tanpa merendahkan segi lain yang sudah banyak dibicarakan pengamat lain.

3. Pembacaan Puisi
Membaca pusi, atau yang lebih dikenal dengan poetry reading, bukanlah hal baru dalam perkembangan kesenian kita. Sejak kira-kira tahun 1950-an, kegiatan semacam itu yang mula-mula disebut deklamasiâ€" sudah dikenal luas di kalangan pelajar. Lomba delkamasi merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh sekolah atau organisasi kesenian. Para penyair umumnya suka terlibat dalam kegiatan semacam itu, bahkan beberapa di antaranya sejak semula telah menunjukkan kemampuannya sebagai deklamator. Namun demikian, pada waktu itu membaca puisi sendiri belum merupakan kegiatan yang banyak dilakukan. Baru pada akhir tahun 60-an khalayak sastra Indonesia diberi suguhan yang agak berbeda sehubungan dengan pembacaan puisi. Para penyair tampil di depan khalayak membaca puisinya sendiri dan biasanya diikuti dengan serangkaian tanya jawab. Kebiasaan semacam itu di beberapa negeri Barat sudah lama ada, tetapi tidak mendapat perhatian di kalangan penyair kita sebelum akhir 60-an itu. Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan Toto Sudarto Bachtiar misalnya, ti¬dak beminat terhadap kegiatan semacam itu.

Penyair-penyair yang mempelopori pembacaan puisi semacam itu adalah Rendra dan Taufiq Ismail. Daya tarik utama Rendra adalah kemampuannya bermain di panggung, di samping pesan yang di¬sam¬paikan lewat puisinya. Pada umumnya, puisi Rendra berkisah tentang kekuatannya, terutama yang terletak pada penggunaan majas yang sering sangat padat. Pembacaan puisi Taufiq Ismail menarik terutama karena kelakar dan ejekannya, di samping pencitraan yang tersusun dalam beberapa sajaknya. Kedua penyair ini memiliki kesamaan dalam memikat khalayaknya; sebagian sajak mereka berisi sindiran atau protes terhadap ketimpangan sosial.

Yang telah dilakukan kedua penyair itu membuktikan bahwa unsur bunyi dalam puisi bisa sangat penting, meskipun pada sebagian besar sajak yang mereka baca unsur makna lebih menentukan. Mereka membaca puisi terutama untuk menyampaikan “pesan” kepada khalayaknya. Namun, hal itu bukan merupakan petunjuk bahwa khalayak sepenuhnya bisa menangkap “pesan” itu, bahkan bukan petunjuk bahwa khalayak semata-mata datang untuk hal itu. Meskipun Taufiq Ismail dan Rendra tidak menyamakan puisi mereka dengan mantra, mungkin sekali bagi sebagian khalayak puisi itu terasa sebagai mantra.

4. Sutardji Calzoum Bachri Dan Mantra
Berbeda dengan kedua penyair itu, Sutardji Calzoum Bachri mengakui ingin mengembalikan kata kepada mantra. Ini berarti ia menghadapi persoalan yang tidak mudah dipecahkan penyair lain, ka¬rena mantra pada dasarnya adalah puisi lisan, sedangkan yang dihasilkannya adalah sastra tulis. Berbeda dengan jenis puisi lain, mantra terutama tidak dimasukkan sebagai alat komunikasi antarmanusia, tetapi merupakan alat komunikasi manusia dengan alam gaib, bahkan untuk menghasilkan tenaga gaib.

Sebagai sastra lisan, mantra menyandarkan sebagian besar kekuatannya pada unsur bunyi sebagai alat untuk berkomunikasi dengan alam gaib dan untuk menghasilkan tenaga gaib. Mantra tidak perlu sepenuhnya dipahami manusia. Apa¬bila mantra diucap¬kan, orang yang mendengarnya dan juga mengucapkannya tidak perlu sepenuhnya memahaminya. Yang lebih penting adalah bunyi yang sedemikian rupa sehingga bisa tercipta komunikasi dan tenaga gaib itu.

Puisi yang ditulis Sutardji Calzoum Bachri, sesuai dengan kredonya, tentu harus mampu menciptakan semacam tenaga gaib, te¬tapi puisi itu ditulis untuk berkomunikasi dengan manusia, tidak dengan alam gaib. Di atas kertas, ia tentu juga diharapkan mampu men¬ciptakan kekuatan gaib, setidaknya suasana gaib. Bagi penulis, Sutardji adalah penyair modern kita yang pertama dengan sungguh-sungguh menyadari pentingnya tipografi dalam penulisan puisi. Di atas kertas, cara yang dapat menerjemahkan kekuatan bunyi adalah ti¬pografi. Seperti halnya bunyi yang disusun dengan baik, tipografi merupakan unsur visual yang mampu dengan segera merebut perhatian kita.

Dalam sajak Rendra yang berjudul Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta misalnya, perhatian pembaca tidak tertuju kepada tipografi, tetapi pada pengertian-pengertian yang disampaikannya; pem¬bacaan sajak tersebut tentu diharapkan bisa semakin memper¬elas pengertian-pengertian itu. Demikian juga, misalnya beberapa sajak pendek Taufiq Ismail yang merupakan penciptaan kembali beberapa pepatah kita. Hal serupa itu tentu tidak berlaku bagi sajak Sutardji seperti yang dikutip ini.

Tragedi Winka & Sihka
kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
win
ka
winka
winka
winka
winka
sihka
sihka
sihka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
sih
sih
sih
sih
sih
ka
ku

Membaca sajak tersebut, pengertian-pengertian seperti yang bisa kita dapatkan dari sajak-sajak Taufik Ismail dan Rendra tidak akan tercapai, sebab memang Sutardji tidak bermaksud me¬nyampaikan pengertian-pengertian semacam itu. Seperti halnya dalam mantra, unsur bunyi lebih menonjol dibandingkan unsur makna, dan rupanya penyair ini menyadari benar hal itu.

Tidak seperti kebanyakan penyair, Sutardji tidak hanya berhenti pada tulisan. Ia sengaja berusaha melisankan puisinya sebaik-baiknya. Baginya, pembacaan puisi bukanlah sekadar kegiatan sampingan bagi apa yang telah ditulisnya, tetapi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan kepe¬nyairannya. Dengan demikian, tulisan Sutardji merupakan semacam naskah sandiwara yang baru sempurna apabila dipentaskan. Di panggung, sajak-sajaknya seperti “Q” dan “Pot” menjelma menjadi seni lisan yang mampu memukau khalayaknya, meskipun di atas kertas sulit dibayangkan cara membacanya. Penulis kita, Popo Iskandar, benar ketika me¬nyatakan bahwa sajak-sajak Sutardji baru mendapat harga penuh bila dibacakan, tentunya oleh penyairnya sendiri.

Berdasarkan apa yang telah dilaksanakannya selama ini, bahwa Sutardji bukan saja pembaca puisi yang baik, tetapi penyair yang dengan bersungguh-sungguh berusaha menciptakan tenaga gaib dengan cara membaca puisinya sendiri, maka ia adalah penyair modern Indonesia pertama yang menyadari hal itu, dan apa yang dilakukannya itu menunjukkan hasil yang nyata, yang merupakan sumbangan bagi perkembangan puisi Indonesia. Penghargaan ke¬pada unsur bunyi dalam puisi, penghargaan terhadap pembacaan puisi, dan perhatian terhadap pendengar, bukan hanya pembaca puisi, telah meningkat. Pembacaan puisi Sutardji selalu mendapat perhatian besar, dan be¬berapa penyair telah berusaha mengikuti jejaknya, tentu dengan hasil yang berbeda-beda.
_______________________

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, lahir di Solo, 20 Maret 1940. Lulus jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1964). Basic Humanities Program, Honolulu, Universitas Hawaii, AS (1970â€"1971). Menjadi dosen IKIP Malang cabang Madiun (1964â€"1968), Pengajar Fakultas Sastra, Uni¬versitas Diponegoro (1968â€"1974), Pengajar Fakultas Sastra, Universitas Indonesia (1975â€"sekarang). Kegiatan lainnya adalah sebagai Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia (1973â€"1978), Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin (1975â€" sekarang), Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (1984â€"sekarang). Mantan anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini juga menulis esei dan kritik. Pernah menjadi redaktur Basis dan bekerja sebagai redaksi Horison.

Karya pertamanya dimuat di Post Minggu, Semarang, Desember 1957. Setelah itu puisi-puisinya banyak menghiasi media Ibu Kota, termasuk majalah Mimbar Indonesia pimpinan H. B. Jassin, “paus” sastra Indonesia. Sedangkan karya-karya lainnya adalah, Kumpulan sajak: Duka-mu Abadi, Jeihan/Pustaka Jaya, (1969), Mata Pisau, Puisi Indonesia/Balai Budaya, (1974), Akuarium, Puisi Indonesia Balai Pustaka, (1974), Perahu Kertas, Balai Pustaka, (1983) â€"kumpulan syair Perahu Kertas ini mendapat penghargaan Dewan Kesenian Jakarta, 1983. Sihir Hujan, Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia, (1984) karya ini menerima anugerah ‘‘Puisi Putra II‘‘ dari Gabungan Persatuan Penulis Nasional (Gapena), Malaysia. Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas, Pusat Bahasa, (1978), Novel Indonesia sebelum Perang, Pusat Bahasa, (1979), Tifa Budaya, ed., Leppenas, (1980), Seni dalam Masyarakat Indonesia, ed., Gramedia, (1983), Sastra Indonesia Modern: Beberapa Catatan, Gramedia, (1983). Karya terjemahannya antara lain, Lelaki Tua dan Laut (Ernest Hemingway), Daisy Manis (Henry James), dan Lirik Klasik Parsi, semuanya pada 1970-an. Salah satu sajaknya, Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari dimuat dalam antologi puisi dunia.
_______________________

Makalah ini disampaikan pada Seminar “Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya”, yang diselenggarakan di Tanjung Pinang, Riau.


Read Users' Comments (0)